Berita

Yuk, Mengulik 4 Hotel Bersejarah di Indonesia!

The Sultan Hotel Jakarta

Pernah gak sih ketika kamu menginap di suatu hotel, terpikirkan kapan hotel itu berdiri, siapa saja tamu penting yang pernah menginap, hingga apa arti dari bangunan dan gaya arsitektur yang menjadi ciri khas hotel tersebut? Jika pernah, berarti kamu bisa disebut sebagai “si pencinta sejarah”. Nah untuk menambah pengetahuan kamu tentang sejarah perhotelan di Indonesia, kali ini Pegipegi akan mengulas tentang 4 hotel yang memiliki sejarah menarik. Hotel apa saja? Yuk, simak berikut ini!

Hotel Savoy Homann

Pada tahun 1871, Hotel Homann merupakan sebuah penginapan biasa milik keluarga asal Jerman, Adolf Homann. Saat itu, Hotel Homann masih berbentuk rumah panggung dan berdindingkan bambu. Barulah pada tahun 1884, Hotel Homann merenovasi bangunan (terutama dinding), sehingga menjadi gedung bergaya arsitektur kolonial. Pada Februari 1937, sang pemilik menambah luas bangunan Homann dengan gedung baru yang kemudian disebut “Savoy” dan merupakan hasil karya arsitek asal Belanda, A.F Aalbers. Menemui wujud Hotel “Savoy Homann” seperti sekarang ini, paling sedikit telah tiga kali mengalami renovasi dan perbaikan. Bangunan Savoy yang semula menjadi landmark, kemudian tumbuh menjadi ciri dan citra Kota Bandung.

Ova Revinna, Public Relations Savoy Homann Bandung, mengungkapkan, “Di hotel kami juga terdapat spot-spot menarik yang dapat dikunjungi oleh tamu, di antaranya Golden Book, Memorabilia, Mural kereta api, tanda di dinding bertuliskan ‘Mox Salvus Redeas’, dan mobil antik. Pada tahun 1955, hotel kami menjadi tempat tinggal petinggi Negara dari Cina dan India. Bahkan presiden pertama RI, yaitu Bapak Ir. Soekarno juga pernah menginap di sini”.

The Sultan Hotel Jakarta

The Sultan Hotel Jakarta

The Sultan Hotel Jakarta yang semula bernama Jakarta Hilton International, berdiri sekitar tahun 1976 dan saat ini merupakan salah satu hotel tertua di Jakarta. Bangunan hotel dibuat dengan desain interior khas Jawa dilengkapi gapura, patung, batik, dan gamelan yang menghiasi ruangan. Selain hotel, terdapat juga residence yang didesain khusus aman dari gempa oleh arsitektur Jepang. 

Indira Puliraja, Marketing Communications Manager The Sultan Hotel, mengatakan, “Hampir semua spot di hotel kami itu mempunyai sejarahnya masing-masing. Yang paling berkesan, di The Sultan Hotel terdapat Kudus Bar yang saat ini dialih fungsikan sebagai Kudus Hall yang berfungsi untuk tempat meeting, wedding, dan lain-lain. Bangunan ini mempunyai ciri khas yang sangat otentik dengan budaya Jawa.”

“Hampir semua tamu negarawan, hingga artis yang berjaya di zamannya pernah menginap di Sultan Hotel, yang saat itu masih pada era Hilton. Nah sekarang pada eranya Sultan, karena kami punya Golden Ballroom, tahun lalu kami menjadi tempat acara debat capres waktu pemilihan presiden. Tidak menginap, tapi yang jelas melakukan acara di hotel kami selama 3 kali berturut-turut. Dan hal itu merupakan momen yang bisa kami banggakan. Pada tahun 2018, kami juga sebagai host Asian Games yang menampung atlet dan wartawan dari seluruh dunia yang datang meliput acara tersebut”, tambah Indira.

Hotel Tugu Blitar

Hotel Tugu Blitar

Hotel Sri Lestari atau yang biasa disebut Hotel Tugu Blitar, berdiri pada tahun 1850-an, di mana hotel ini awalnya merupakan rumah tinggal salah satu keluarga terkenal di Blitar. Seiring perjalanan waktu, setelah Perang Dunia kedua, hotel tersebut diberi nama Hotel Centrum. Bertahun-tahun setelah itu, namanya diubah menjadi Hotel Sri Lestari dan kini menjadi Hotel Tugu Sri Lestari. 

Bangunan hotel ini merupakan rumah besar Jawa Timur yang indah dengan gaya arsitektur rumah kolonial. Terdapat pilar-pilar raksasa berwarna putih serta perabotan antik dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Awal abad ini, bangunan tersebut direnovasi pada setiap detailnya namun tetap mempertahankan karakter,  artistik,  karismatik, dan historisnya,  serta memadukannya dengan kemewahan modern. 

Terdapat 1 kamar khusus “Sang Fajar Suite” atau sebuah kamar berukuran 80m2 yang didedikasikan khusus untuk mengenang sejarah Bung Karno. Di kamar tersebut terdapat furnitur bergaya antik art deco yang dilengkapi beberapa lemari tempat menyimpan memorabilia dan foto-foto lama Bung Karno. 

Suhartini, selaku Operations Manager Hotel Tugu Blitar, mengungkapkan, “Beberapa tamu penting di Indonesia pernah menginap di sana. Di antaranya Susilo Bambang Yudhoyono (mantan Presiden RI ke-6) pada tahun 2010, Megawati Soekarno Putri (mantan Presiden RI ke-5), Boediono (mantan Wakil Presiden RI ke-11), hingga grup band ternama seperti Slank, Samson, dan Gigi”.

Grand Inna Malioboro

Grand Inna Malioboro

Grand Inna Malioboro hadir di Yogyakarta sebagai hotel dengan konsep heritage dan kolonial. Hotel yang berdiri sejak tahun 1908 ini adalah yang terbesar dan termewah pada zamannya di Yogyakarta. Dahulu, Grand Inna Malioboro bernama Grand Hotel De Djokdja yang berarti “Hotel Yogyakarta”. Hotel ini mulai beroperasi pada tahun 1911 dan hanya menampung tamu-tamu militer Belanda. Sejauh ini, nama hotel telah berubah tujuh kali. Mulai dari Grand Hotel De Djokdja (1908–1942), Hotel Asahi (1942–1945), Hotel Merdeka (1945–1950), Hotel Garuda (1950–1982), Natour Garuda (1982–2001), Inna Garuda (2001–2017), hingga 15 Maret 2017 lalu menjadi Grand Inna Malioboro.

Upacara Pembukaan Great Grand pada 29 Juni 1985 secara resmi dilakukan oleh Gubernur Yogyakarta saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kemudian pada 29 Juni 1991, Sri Paduka Paku Alam VIII, Gubernur Yogyakarta yang menjabat saat itu, secara resmi membuka perpanjangan Natour Garuda. Ini adalah suatu kehormatan khusus, di mana dua Raja Keraton Yogyakarta meresmikan Grand Inna Malioboro pada masa itu.

Salah satu kamar yang digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman pada masa perang dengan Belanda berada di bangunan Heritage, yang saat ini menjadi salah satu kamar termewah dengan nama Sudirman Suite room. Beberapa peninggalan beliau diserahkan oleh manajemen hotel ke Museum Sasmita Loka Yogyakarta. Tamu penting lainnya yang pernah menginap di Grand Inna Malioboro, di antaranya Megawati Soekarno Putri (mantan Presiden RI ke-5), Gus Dur (mantan Presiden RI ke-4), Susi Pudjiastuti (mantan Menteri Kelautan & Perikanan), dan masih banyak lagi lainnya.

Th. Retna Kusumaningrum, Public Relations Manager Grand Inna Malioboro, mengatakan, “Atraksi atau spot yang dapat dikunjungi para tamu selama menginap adalah Culture Experience yang selalu ada di MCC Gate Grand Inna Malioboro, setiap hari Selasa dan Jumat, pukul 14.00–15.00 WIB, yang meliputi; Belajar menari, belajar gamelan, belajar membuat jamu, belajar membuat wayang, dan belajar membatik”. 

Itu dia 4 hotel yang memiliki sejarah menarik. Semoga bisa menambah pengetahuan kamu tentang sejarah perhotelan di Indonesia! Jadi, kamu mau menginap di hotel mana lagi nih buat liburan berikutnya? Jangan lupa, pesan tiket pesawat, tiket kereta, tiket bus, dan hotel murah di Pegipegi, ya. 

PESAN TIKET BUS MURAH PESAN TIKET PESAWAT MURAH PESAN TIKET KERETA API MURAH CARI HOTEL MURAH

Agar transaksi kamu lebih murah dan mudah, jangan lupa instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store, ya!

google-play

apps-store

Comments

To Top