Event & Festival

Tradisi Natal unik di berbagai daerah di Indonesia

Perayaan Natal biasa identik dengan pohon Natal yang dihiasi ornamen berwarna-warni, sinterklas, makan malam bersama sampai pembagian hadiah untuk orang tercinta. Tapi, ternyata di berbagai daerah di negeri tercinta kita ini merayakan Natal dengan cara yang sangat berbeda.

Natal di Bali

foto: beritahariankosmo.blogspot.com

Seperti diketahui, Indonesia kaya akan budaya dan memiliki beberapa tradisi serta cara unik untuk merayakan hari spesial ini. Yuk, intip beberapa cara untuk merayakan Natal di sejumlah daerah di Tanah Air!

1. Rabo-rabo di Jakarta

Buat kalian yang tinggal di Jakarta, mungkin tidak asing dengan Kampung Tugu. Kampung yang terletak di kawasan Cilincing ini terkenal sebagai tempat bermukim keturuan Portugal. Jadi gak heran kalau di Kampung Tugu ini memiliki tradisi unik buat merayakan Natal.

Saat Natal, mengunjungi gereja terdekat dan memainkan Rabo-rabo. Apa sih Rabo-rabo itu? Rabo-rabo merupakan tradisi peninggalan bangsa Portugal, di mana warga mengunjungi warga lainnya diiringi musik keroncong dan sambil menari bersama. Nah, warga yang dikunjungi harus ikut dengan rombongan tadi untuk meneruskan Rabo-rabo hingga ke rumah terakhir di area tersebut. Jadi gak heran, jalan-jalan di kampung Tugu akan sangat ramai saat perayaan Natal.

Puncak selebrasi dilakukan dengan tradisi mandi-mandi, yaitu orang-orang yang sedang berkumpul “mencorat-coret” wajah orang lain dengan menggunakan bedak putih sebagai simbol penebusan dosa dan permintaan maaf jelang Tahun Baru.

2. Wayang Kulit di Yogyakarta

Sebagai kota yang terkenal dengan budayanya, gak heran perayaan Natal di Yogyakarta penuh dengan tradisi. Di Kota Pelajar, seorang pendeta atau pastor memimpin ibadah menggunakan pakaian khas Yogyakarta, yaitu beskap, blangkon dan menggunakan bahasa Jawa halus. Selebrasi Natal dilengkapi dengan pertunjukan wayang kulit bertema “Kelahiran Yesus Kristus”.

Tidak berbeda dengan perayaan Idul Fitri, saat Natal warga Yogyakarta juga mengunjungi relasi mereka dan di anak-anak akan mendapat kebahagiaan tambahan dengan menerima angpao dari kerabat.

3. Mabinda di Sumatera Utara

Seperti Yogyakarta, komunitas Batak di Sumatera Utara juga punya sejumlah tradisi di setiap perayaan hari besar. Saat Natal misalnya, ada sebuah tradisi khas yang disebut Marbinda. Tradisi Marbinda agak mirip dengan perayaan Idul Adha bagi umat Muslim. Di sini, mereka mengurbankan hewan bersama-sama di hari Natal. Uniknya, hewan kurban tersebut didapat dari hasil patungan bersama beberapa bulan sebelum Natal. Jika dana yang terkumpul cukup banyak, mereka bisa mengurbankan kerbau tapi jika tidak cukup, mereka hanya akan mengurbankan babi. Daging hewan kurban tersebut nantinya dibagikan kepada mereka yang ikut patungan.

4. Kunci Taon di Manado

Jika kebanyakan wilayah merayakan Natal hanya pada 25 Desember, berbeda dengan di Manado, Sulawesi Utara yang sudah memulai selebrasi sejak 1 Desember dengan serangkaian acara pra-Natal sampai puncaknya di tanggal 25 tersebut.

Mengunjungi makam keluarga tercinta masih menjadi bagian dari perayaan hari besar, biasanya dilakukan setelah Natal dan sebelum tahun baru. Pada periode ini, area pemakaman dibersihkan dan diberi hiasan agar lebih terasa aura liburan.

Selebrasi Natal dilanjutkan hingga Minggu pertama Januari, yang diakhiri dengan tradisi Kunci Taon, di mana sejumlah komunitas berparade di jalan-jalan desa dengan kostum unik dan menghibur.

5. Suara Natal di Ambon, Flores dan Papua

Di Flores, Natal biasanya identik dengan obor bambu di hampir setiap sudut kota saat Natal. Bagi para pemuda-pemudi, mereka biasanya melek sepanjang malam pada 24 Desember sambil bermain kembang api.

Kalian akan mendengar riangnya suara lonceng di gereja jika ikut merayakan Natal di Ambon. Dalam momen ini, mereka biasanya berkumpul dengan sanak saudara.

Tradisi unik lainnya ada di Papua, yang disebut dengan Barapen. Barapan atau bakar batu merupakan ritual kuliner lokal dengan memasak daging babi sebagai bagian pesta kelahiran Yesus Kristus. Gak cuma itu, beberapa area didekorasi dengan ornamen plus nyanyian Natal yang dimainkan selama 24 jam penuh.

6. Penjor di Bali

Bali tidak hanya terkenal dengan pantainya yang indah, tapi juga budayanya yang terbilang unik, termasuk saat merayakan Natal. Memakai pakaian tradisional seperti kebaya, selendang dan kain kamen dengan warna hitam dan putih menjadi kebiasaan umat Kristiani yang merayakan Natal di Pulau Dewata. Gereja-gereja di Bali juga tak mau kalah, mereka dipercantik dengan bambu dan janur, atau masyarakat sana menyebutnya Penjor.

7. Lovely Desember di Toraja

Terdapat kemiripan mengenai perayaan Natal di Toraja dengan di Manado, yakni dimulainya pesta sejak awal Desember. Menjelang Natal, pemerintah Toraja menggelar festival budaya dan pariwisata yang dikenal dengan sebutan Lovely December. Puncak acara digelar pada 26 Desember dengan sebuah prosesi yang disebut Lettoan.

Kalau penasaran dengan Lovely December, kalian bisa datang ke Toraja jelang Natal, dijamin tidak menyesal. Dalam ferstival ini, berbagai event digelar untuk memanjakan turis seperti karnaval, pertunjukan seni, rangkaian upacara tradisional, pameran kerajinan bahkan sampai wisata kuliner. Menarik ya!

(Visited 750 times, 1 visits today)

Comments

To Top