Destinasi

Tindik telinga khas suku Dayak, warisan leluhur yang hampir punah

Seni rajah tubuh dan tindik memang sudah nggak asing lagi. Nggak hanya bisa dijumpai secara langsung, pemandangan tersebut juga rajin muncul di media cetak dan elektronik. Tapi di Indonesia sendiri, suku Dayak bisa jadi salah satu barometer seni rajah tubuh sejak dulu kala. Selain seni tatonya yang mendunia, travelers pasti menyadari penampakan suku Dayak dengan daun telinga panjang, kan.

Nah, tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun ini memang mulai sulit dijumpai, kecuali kamu lebih mengeksplor ke pedalaman Kalimantan. Nggak hanya unik, ternyata ada cerita menarik di balik seni melubangi telinga tersebut. Yuk, cari tau bareng PegiPegi di sini!

Menjadi standar kecantikan
Siapa bilang perempuan akan selalu terlihat cantik jika berkulit putih, atau memiliki hidung mancung? Untuk perempuan suku Dayak, semakin menjulur panjang daun telinganya maka semakin cantik. Pria di sana pun memang menyukai perempuan dengan daun telinga panjang. Makanya, nggak perlu heran kalau upacara pasang anting sudah dimulai sejak bayi.
Namun begitu, yang melakukannya nggak hanya kaum wanita saja, tapi para pria juga nggak mau kalah. Bedanya, yang perempuan boleh memanjangkan telinganya sampai bagian dada, sedangkan untuk pria panjangnya nggak boleh melebihi bahu.

kumeokmemehdipacok.blogspot.com

kumeokmemehdipacok.blogspot.com

Pasang pemberat semakin banyak
Tradisi memakai pemberat ini memang sudah berjalan turun temurun. Seiring bertambahnya umur, maka daun telinga si bayi akan terus ditambah pemberat satu per satu. Wujud pemberatnya pun unik, ada yang terlihat seperti gasing, atau gelang logam berbentuk lingkaran.
Beratnya membuat daun telinga makin mulur ke bawah sampai beberapa cm, dan ini membuat wanita Dayak Kayan makin mempesona di hadapan para pria. Sementara suku Dayak Iban nggak memakai pemberat, tapi dibiarkan saja nampak seperti lubang besar menyerupai angka nol.

cheese.formice.com

cheese.formice.com

Beda sub-suku, beda alasan
Sebenarnya, sih, nggak semua orang Dayak punya daun telinga yang panjang. Umumnya tradisi ini hanya dilakukan pada beberapa sub-suku Dayak seperti Dayak Punam, Dayak Kayan Taman, Dayak Iban, Dayak Kayan, Dayak Bahau, Dayak Kenyah, dan beberapa tempat di pedalaman Kabupaten Kapuas Hulu.
Alasan pakainya juga bermacam-macam, misalnya untuk melatih kesabaran karena prosesnya yang cukup menyakitkan. Sedangkan bagi suku Dayak Kayan, memiliki daun telinga panjang menunjukkan asalnya dari keluarga bangsawan—tidak boleh ditiru orang awam. Alasan lain, bisa juga bila seorang perempuan menyandang status budak karena kalah perang, atau nggak bisa bayar utang.
Beda lagi dengan suku Dayak di hulu Sungai Mahakam, daun telinga panjang menjadi identitas umur seseorang. Jika jumlah manik-manik di telinganya cukup banyak, menandakan usianya sudah cukup tua.

indofiles.web.id

indofiles.web.id

Seni suku Dayak yang hampir punah
Bergesernya zaman membuat seni melubangi telinga mulai dipandang sebelah mata. Generasi muda suku Dayak ternyata justru malu jika orangtuanya memiliki daun telinga yang panjang. Nggak sedikit dari mereka yang memotong telinganya dengan operasi kecil agar tampak seperti telinga normal.
Sementara di sisi lain, pemilik telinga panjang justru mendapat penghasilan tambahan karena banyak wisatawan yang ingin foto bareng. Walau seni ini mulai ditinggalkan generasi muda, tapi justru menjadi inspirasi bagi penggemar piercing di seluruh dunia.

(Visited 3,167 times, 14 visits today)

Comments

To Top