Berita

Taxidermy, Seni ‘Menghidupkan’ Hewan Mati yang Menggelitik

Apakah kamu penggemar series televisi Bates Motel? Jika demikian, pasti kamu akrab dong dengan hobi yang digemari oleh karakter utamanya, Norman Bates (Freddie Highmore), taxidermy.

Jika dilihat dari bentuk aktivitasnya, taxidermy adalah metode mengawetkan tubuh mahluk hidup. Namun, Dalam ilmu seni rupa, taxidermy adalah seni menyumpal tubuh hewan yang sudah mati agar terlihat seperi hidup lagi.

Hasil dari seni taxidermy bisa banyak kamu temui di museum-museum yang memiliki koleksi pajangan hewan seperti di Museum Hewan Malang. Selain bagian dari seni rupa yang menarik, taxidermy juga banyak digunakan sebagai wadah penelitian, khususnya kedokteran.

Lewat metode ini, para peneliti dapat mengenal lebih dalam anatomi dan genetik mahluk hidup. Dengan obyek kebanyakannya hewan, hasil taxidermy dapat mendukung berbagai macam teori yang mereka tengah simpulkan.

Makam Firaun

Secara nama, taxidermy adalah gabungan dua kata dari Bahasa Yunani, taxis dan derma. Jika disimpulkan, taxidermy berarti membangun kembali tubuh dengan bahan buatan.

Seni taxidermy sendiri pertama kali ditemukan di Mesir. Melalui sebuah laporan berjudul Pratical Taxidermy, seorang penjelajah bernama Frederick H. Hitchcock mengungkapkan bahwa taxidermy merupakan bagian dari tradisi warga Mesir Kuno.

Berbagai macam hewan seperti anjing, kucing, monyet, burung, hingga domba diawetkan kemudian dikubur dalam makam Firaun. Seni taxidermy di Mesir sendiri berkembang pesat pada tahun 2200 sebelum masehi.

Usai menggema di Mesir, Taxidermy baru masuk kawasan Eropa setelah Kerajaan Romawi runtuh pada tahun 476 setelah masehi. Perkembangan ilmu dan teknologi di Eropa kala itu nggak bisa dilepaskan dari seni taxidermy.

Berbagai penelitian terhadap hewan pun dilakukan dengan metode yang satu ini. Antara lain taxidermy terhadap varian burung di Belanda, badak di Florence, Italia, hingga buaya di Swiss.

Salah satu tokoh dunia yang menggunakan taxidermy sebagai metode penelitiannya adalah Charles Darwin. Pakar alam asal Inggris ini cukup ahli mengisi kulit binatang dan menjadikannya replika untuk kemudian ia teliti.

Proses Sangat Rumit

Untuk menghasilkan seni rupa taxidermy yang sempurna, kamu butuh jam terbang yang banyak. Beberapa teknik pun bisa dipraktikan agar mendapatkan pakem yang membuat kamu nyaman.

Bisanya, para taxidermist, orang yang melakukan taxidermy, memulai pekerjaannya dengan menguliti binatang yang sudah mati dengan perlahan. Setelah itu, kulit yang sudah dikelupas, akan diawetkan dengan berbagai bahan kimia agar menjaga bentuk aslinya.

Setelah itu, sang taxidermist akan mengeluarkan semua organ tubuh yang nggak bisa digunakan karena sifatnya yang cepat busuk. Kemudian, menggantinya dengan busa, kapas dan kawat demi mendapatkan bentuk asli.

Nah, sebagai finishing, sang taxidermist akan menjahit seluruh tubuh dengan benang nilon. Tujuannya untuk menutup bagian yang terbuka setelah dikuliti.

Tanpa mengubah bentuk asli, hewan hasil taxidermy pun dapat dinikmati dengan rupa yang sempurna, layaknya hidup lagi. Meskipun, sama sekali nggak dapat bergerak.

Nah, tertarik untuk mempelajari seni taxidermy?

Mau berburu hewan taxidermy di museum? Sekalian liburan! Biar hemat, kamu bisa pesan tiket pesawattiket kereta api, dan hotel murah di Pegipegi.

pesan tiket pesawat murah  pesan tiket kereta api murah  cari hotel murah

Foto utama: Shutterstock

Agar transaksi kamu lebih murah dan mudah, jangan lupa instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store, ya!

google-play

apps-store

Comments

To Top