Destinasi

Pulau Samosir, pesona wisata di tengah Danau Toba

Kamu pasti udah pernah dengar tentang Pulau Samosir kan, travelers? Selama ini pulau vulkanik dengan ketinggian 1000 meter ini hanya dikenal sebagai sebuah pulau kecil yang terletak di tengah Danau Toba, danau terluas di Pulau Sumatera. Mungkin belum banyak yang tahu kalo Pulau Samosir juga menyimpan aneka pesona, sama dengan Danau Toba yang mengelilinginya. Pesona apa sajakah itu? Yuk, kita cari tahu.

pulau samosir

Bagaimana cara menjangkau Pulau Samosir?
Ada beberapa cara untuk mendatangi Pulau Samosir, dan kali ini Pegipegi akan memilih jalur udara karena lebih mudah dan aman, terutama kalau kamu sama sekali belum pernah bepergian ke Sumatra. Pertama-tama kamu naik pesawat jurusan Medan, dan perhentian terakhir kamu adalah Bandara Internasional Kuala Namu. Dari sini kamu cari bus Paradep yang menuju ke Pematang Siantar. Setelah menempuh perjalanan selama 3 sampai 4 jam, beritahu driver kamu mau turun di Simpang Dua Taksi Parapat. Dari sini kamu naik taksi ke Parapat yang jaraknya sekitar 1 jam. Sampai di Parapat kamu bisa naik feri untuk menyeberang ke Pulau Samosir.

Danau di atas danau
Pulau Samosir merupakan wilayah utama dari Kabupaten Samosir dengan luas sekitar 640 kilometer persegi. Dengan luas ini maka Pulau Samosir menjadi satu-satunya pulau terluas di dunia yang berada di tengah danau. Pulau Samosir terbentuk setelah terjadinya erupsi vulkanis 75 ribu tahun yang lalu. Dan peristiwa itu bukan hanya membentuk Pulau Samosir, namun juga kondisi geografisnya secara keseluruhan. Letusan vulkanik juga telah membentuk dua danau di Pulau Samosir, yaitu Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang, yang keduanya mendapat julukan sebagai danau yang berada di atas danau (Danau Toba). Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang sama-sama berpanorama cantik dan airnya jernih. Sayangnya belum ada akses jalan yang memadai, sehingga keduanya sering luput dari perhatian para wisatawan.

samosirsidihoni

Pengadilan zaman kuno di Kampung Siallagan
Kampung Siallagan cocok buat kamu yang tertarik mempelajari sejarah di balik berdirinya suatu tempat. Nama Siallagan berasal dari nama seorang raja, yaitu Raja Siallagan, yang pernah memerintah di wilayah ini ratusan tahun lalu. Di sini kamu bisa menjumpai jejak sejarah berupa deretan rumah dengan arsitektur tradisional yang dibangun dan didirikan pada masa pemerintahan Raja Siallagan. Sampai sekarang rumah-rumah itu masih ditinggali dan terpelihara dengan baik, lengkap dengan pagar batu yang mengelilingi desa untuk melindungi warga dari gangguan binatang buas atau serangan musuh.

Raja Siallagan dikenal cukup tegas dalam menegakkan hukum. Terbukti dengan adanya situs Batu Parsidangan yang bisa kamu lihat di bagian dalam Kampung Siallagan. Tempat yang berwujud semacam ruang pengadilan, lengkap dengan meja dan kursi terbuat dari batu ini digunakan untuk mengadili pencuri, penjahat dan para kriminal. Jika mereka terbukti bersalah, maka mereka akan dihukum pancung di sini. Oh ya, jangan coba-coba menduduki kursi atau apapun yang ada di situs Batu Parsidangan, travelers, karena situs sudah sangat tua dan rentan mengalami kerusakan.

Boneka yang bisa bergerak sendiri
Boneka bergerak sendiri? Ah, nggak mungkin. Itu pasti karena ada orang yang menggerakkan di belakangnya. Tapi, dalam Pertunjukan Sigale-gale yang hanya bisa kamu jumpai di Pulau Samosir ini, bonekanya memang benar-benar bisa bergerak sendiri, travelers! Pertunjukan Sigale-gale awalnya dibuat untuk menghibur hati Raja Rahat, seorang raja yang pernah berkuasa di Pulau Samosir. Alkisah, Raja Rahat sedang bersedih akibat kematian putranya, Raja Manggale, di medan perang. Untuk menghibur hatinya maka para dukun kerajaan membuat sebuah boneka yang telah diisi dengan mantra-mantra sehingga bisa menggerak-gerakkan tangannya sendiri sesuai dengan iringan gondang (gendang khas Batak).

samosirsigalegale

Pertunjukan Sigale-gale masih dilestarikan masyarakat Pulau Samosir hingga sekarang, dan menjadi pertunjukan yang dinanti para wisatawan yang berkunjung kesini. Cuma, boneka Sigale-gale telah mendapat sentuhan modern dan tidak lagi menggunakan mantra-mantra untuk menggerakkannya. Boneka Sigale-gale telah dirancang khusus agar bisa digerakkan oleh seorang pangurdot (pemain Sigale-gale). Di tangan seorang pangurdot yang cukup berpengalaman, boneka Sigale-gale bukan hanya bisa menari, tapi juga bisa menangis dan benar-benar mencucurkan air mata, seperti seseorang yang sedang bersedih.

Total ada tiga grup yang biasa mementaskan Pertunjukan Sigale-gale di Pulau Samosir. Dengan Rp60.000,- saja, kamu bisa menikmati tiga tarian Sigale-gale dengan durasi sekitar 15 menit. Tapi kamu nggak akan bisa melihat aksi para pemain musik, karena iringan musik hanya diputar melalui rekaman audio. Kalo mau menonton pertunjukan Sigale-gale yang lengkap dengan para pemain musiknya juga bisa, travelers. Hanya saja biayanya lebih besar, yaitu sekitar Rp 2.000.000,- untuk sekali pertunjukan. Bisa dimaklumi karena dalam pertunjukan Sigale-gale versi original ini akan ada lebih dari 10 orang pemain musik tradisional yang akan mengiringi Sigale-gale menari.

Penasaran kan, travelers? Yuk, ke pulau Samosir dengan booking tiket pesawat serta hotel terbaik hanya di PegiPegi.com

(Visited 2,051 times, 3 visits today)

Comments

To Top