Event & Festival

Persiapan Warga Belitung Menyambut Ceng Beng

Hari Raya Ceng Beng adalah hari ziarah tahunan orang Tionghoa yang biasanya jatuh setiap 5 April. Perayaan ini digunakan untuk berziarah dan bersembahyang demi menghormati orangtua dan leluhur yang sudah meninggal. Ceng Beng berasal dari kata Qing Ming yang artinya cerah dan cemerlang. Hari itu dipercaya merupakan hari baik, cerah, dan terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Belitung merupakan salah satu kota di Indonesia yang selalu mengadakan ritual Ceng Beng setiap tahunnya.

Sudah sibuk 10 hari sebelumnya

Puncak perayaan Ceng Beng memang jatuh di tanggal 5 April, tapi para warga atau sanak saudara yang pulang kampung ke Belitung sudah sibuk 10 hari sebelumnya. Kegiatan ini dilaksanakan sejak dini hari hingga terbit fajar dengan melakukan sembahyang dan meletakkan sesajian berupa anek buah-buahan (sam kuo), ayam atau babi (sam sang), arak, aneka kue, makanan vegetarian (cai choi), uang kertas (kim cin), dan membakar garu (hio).

ceng beng

Dok. Nely Hotono

ceng beng 2

Dok. Nely Hotono

ceng beng 4

Dok. Nely Hotono

Sejarah tradisi Ceng Beng

Menurut cerita rakyat yang beredar, asal mula tradisi Ceng Beng berawal dari zaman Kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming. Zhu Yuan Zhang awalnya berasal dari keluarga yang sangat miskin. Karena itu, ketika membesarkan dan mendidik Zhu Yuan Zhang, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil. Saat beranjak dewasa, Zhu Yuan Zhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol).

Berkat kecakapannya, dalam waktu singkat, ia berhasil mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut. Kemudian ia menaklukan Dinasti Yuan dan berhasil jadi kaisar. Setelah itu, Zhu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya. Sesampainya di desa, ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan nggak diketahui keberadaan makamnya.

Untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, Zhu Yuan Zhang memberi titah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan. Selain itu, beliau juga memerintahkan rakyat untuk menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam sebagai tanda makam telah dibersihkan.

Setelah semua rakyat selesai berziarah, kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibersihkan, serta diberi tanda. Kaisar pun berziarah ke makam-makam tersebut dan berasumsi bahwa di antara makam-makam tersebut merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhurnya. Akhirnya ritual ziarah makam ini dilakukan setiap tahun.

Bertujuan juga untuk mengakrabkan seluruh anggota keluarga

Walaupun sudah berbeda agama atau kepercayaan, bukan berarti kamu nggak perlu datang ke ziarah makam. Karena, Hari Raya Ceng Beng diadakan untuk menghormati leluhur dan orangtua yang sudah melahirkan kita. Tradisi sembahyang di sana bisa disesuaikan dengan keyakinan masing-masing.

Selain itu, banyak juga yang memanfaatkan momen ini untuk pulang kampung, mengobati kerinduan pada kampung halaman, serta berkumpul dengan sanak saudara yang selama ini sulit ditemui. Jadi, kapan lagi kamu bisa bertemu dengan mereka untuk mengobrol dan melepas kangen, sekaligus menjelajah indahnya pantai-pantai di Bangka Belitung dan mencicipi makanan enak!

ceng beng3

Dok. Nely Hotono

^86633390C87633299B6B6705793BB48020F34ED78483F4B017^pimgpsh_fullsize_distr

Mungkin kamu nggak merayakan Ceng Beng, tapi bisa jadi kamu ada rencana untuk traveling ke Bangka Belitung! Jangan lupa lho buat pesan tiket pesawat dan hotel murah di Bangka Belitung lewat pegipegi.com! Dijamin kantung kamu nggak akan bolong dan traveling kamu akan makin berkesan.

cari tiket pesawat murah  cari hotel murah di belitung

(Visited 733 times, 3 visits today)

Comments

To Top