Destinasi

Mengungkap eloknya Kepulauan Nias

Nama Kepulauan Nias mendadak terkenal ketika dua bencana alam, yaitu tsunami 2004 dan gempa bumi 2005 mengguncang hingga menelan korban jiwa maupun harta benda. Kini kepulauan di laut Sumatra bagian utara telah berbenah dan tengah bangkit dari keterpurukan. Perbaikan sarana dan prasarana terus dilakukan untuk menjadikan propinsi termuda di Indonesia ini makin menarik sebagai tujuan wisata.

Apa saja keelokan di Kepulauan Nias yang musti kamu ketahui? Berikut ulasannya.

1. Pantai Lagundri dan Pantai Sorake, Teluk Dalam, Nias Selatan

pantai-sorake
Kamu mungkin sudah pernah mendengar tentang Pantai Sorake yang sudah pernah Pegipegi bahas beberapa waktu lalu. Pantai Sorake bertetangga dengan Patai Lagundri dengan jarak sekitar 2 kilometer. Meski letaknya terpencil namun namanya sangat terkenal di kalangan para surfer internasional sejak tahun 1993. Pantai Sorake bahkan disebut-sebut sebagai spot surfing terbaik di dunia setelah Hawaii, travelers. Pantai ini punya ombak yang tingginya mencapai 3 sampai 5 meter, trus ada juga 5 tingkatan ombak yang nggak bisa dijumpai di pantai manapun di Bumi ini. Wow, kerennya….

pantai lagundri
Sementara itu, Pantai Lagundri sudah menjadi tuan rumah buat beberapa kompetisi surfing kelas dunia, salah satunya adalah Nias Open. Kompetisi surfing sempat terhenti ketika Nias luluh lantak akibat bencana alam, tapi sekarang situasi telah membaik berkat kerja keras warga dan pemerintah setempat. Beberapa fasilitas home stay telah dibangun kembali dan harga sewa per malamnya cukup terjangkau, cuma Rp 75 ribu rupiah semalam. Kamu bisa datang di bulan Juni-Juli kalau ingin menyaksikan aksi para surfer mengendarai ombak, travelers. Tapi kamu juga bebas datang ke dua pantai ini kapan saja, karena dua-duanya sama-sama punya pemandangan menakjubkan, suasana sekitar yang masih bersih dan sunyi. Pas banget buat kamu yang nggak suka keramaian.

2. Pantai Tureloto, Nias Utara

pantai tureloto
Tak selamanya gempa membawa malapetaka. Gempa hebat tahun 2005 di Kepulauan Nias malah membuat hamparan karang di perairan Tureloto muncul ke permukaan sehingga membentuk semacam benteng beberapa ratus meter dari bibir pantai. Benteng karang tadi akhirnya menghalau gelombang laut dan menciptakan semacam laguna dengan air biru yang jernih dan tenang. Kalau lagi jalan-jalan ke pantai, rugi rasanya kalau nggak berenang. Coba terjun ke dalam air dan lihat bagaimana tubuhmu mengapung di laut! Ya, travelers, rupanya perairan di Pantai Tureloto mengandung kadar garam yang tinggi dan tubuhmu pun akan mengambang seringan kapas saat kamu menceburkan diri ke dalamnya. Asyiknya lagi, kamu bisa memandangi ikan-ikan kecil berenang di sela-sela karang di dasar laut tanpa harus menyelam. Letaknya, lagi-lagi sangat terpencil dan hanya dapat dijangkau dengan mobil sewaan dari Kota Gunung Sitoli selama dua jam. Harga sewa mobil juga cukup mahal, sekitar Rp 250 ribu-Rp 300 ribu per hari. Tapi jangan khawatir, travelers, kamu nggak perlu membayar tiket masuk ke pantai fenomenal ini, alias gratis.

3. Desa Bawo Mataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan

desa bawomataluo
Desa Bawo Mataluo merupakan salah satu di antara sedikit desa adat di Indonesia yang terpelihara dengan baik, baik dari sisi arsitektur maupun kehidupan masyarakatnya. Deretan 72 anak tangga batu akan menyambutmu ketika melangkahkan kaki masuk ke desa ini. Desa di puncak bukit dan berhawa sejuk ini dibangun di atas pondasi batu yang masih tampak kuat, meski dibangun beratus tahun yang lampau. Semua rumah penduduk punya bentuk yang sama dan mengelilingi satu rumah besar tempat tinggal Raja Nias. Ada juga semacam balai desa dengan semua kursi yang terbuat dari batu, arca-arca dan meriam kuno peninggalan Belanda yang posisinya tak pernah bergeser.

O ya, satu lagi yang menarik dari Desa Bawo Mataluo yaitu ritual lompat batu, atau dalam bahasa setempat disebut Fahombo. Ritual ini dulu dilakukan masyarakat Nias sebelum mereka pergi berperang, travelers. Seiring dengan perkembangan jaman Fahombo kini dilakukan oleh para pemuda Nias sebagai bukti kedewasaan sebelum mereka menikah. Kalau kamu mau nonton Fahombo secara langsung, datanglah ke Desa Bawo Mataluo pada hari Sabtu. Desa Bawo Mataluo masih satu kecamatan dengan Pantai Sorake dan Pantai Lagundri, travelers. Jadi kamu bisa mampir kesini habis main surfing, dan pastinya tak sulit untuk mengunjungi Desa Bawo Mataluo yang masuk dalam daftar World Heritage UNESCO di tahun 2009.

4. Desa Orahili, Gomo, Kabupaten Nias Selatan

desa orahili
Secara sepintas Desa Orahili yang terletak di tepi Sungai Gomo ini mungkin sama dengan desa-desa di Kepulauan Nias lainnya. Bedanya, disini kamu bisa menjumpai peninggalan bersejarah dari era Kebudayaan Megalitikum yang tak ada di tempat lain di seluruh penjuru Tanah Air! Alkisah, perpindahan penduduk secara besar-besaran dari Asia bagian timur terjadi pada sekitar 1000-1500 M, dan mereka membawa serta kepandaian dan keahlian yang mereka kuasai dalam hal mengolah batu-batu besar menjadi berbagai perangkat. Di Desa Orahili inilah sebagian kecil manusia purba dari Asia itu berlabuh dan mendirikan perkampungan di tengah pegunungan.

Beberapa peninggalan Kebudayaan Megalitikum yang bisa kamu lihat disini adalah sekumpulan menhir, dolmen, sarkofagus dan patung manusia yang tampaknya dibuat untuk tujuan sebagai sarana pemujaan terhadap arwah leluhur. Masyarakat Nias sampai detik ini masih menganggap agung semua peninggalan megalitikum itu, travelers. Sayang, kurangnya perawatan dan pengawasan mengakibatkan banyak arca maupun bebatuan hilang atau mengalami kerusakan.

Penasaran kan, travelers? Ayo segera klik Pegipegi dan pesan tiket kamu ke Nias dan destinasi-destinasi cantik lainnya sekarang!

 

(Visited 704 times, 1 visits today)

Comments

1 Comment

Comments

To Top