User Review

Mengulik Tradisi Perayaan Imlek di Indonesia

Beberapa tahun terakhir ini, kemeriahan Tahun Baru Cina atau Imlek di Indonesia makin terasa. Supermarket dan mall juga menghias diri dengan nuansa warna merah, buah naga, pohon angpao, dan jejeran kue keranjang. Kamu tahu nggak? Awalnya, perayaan Imlek memang diperbolehkan. Namun sejak pemerintahan era orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto, masyarakat Tionghoa tidak diperkenankan melakukannya secara besar-besaran, mereka menikmati suasana Imlek secara tertutup, hanya dengan keluarga dan komunitas.

Angin segar mulai terasa ketika pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid yang memberikan kebebasan bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek di tempat terbuka. Tidak berapa lama kemudian, Imlek dijadikan sebagai hari libur nasional dan ini tentu membawa kebahagiaan bagi masyarakat Tionghoa karena acara kumpul-kumpul keluarga makin mudah dilakukan. Lalu, apa saja sih tradisi yang biasa dilakukan saat merayakan Imlek? Yuk, kita intip satu per satu.

1. Membersihkan Rumah
Menyapu rumah berarti juga membersihkan rumah agar kotoran yang dianggap sebagai simbol kesialan disingkirkan, hingga tersedia ruang yang cukup untuk menampung keberuntungan. Rumah yang bersih juga sedap dipandang mata ‘kan? Setelah itu, mereka akan menyingkirkan sapu dan sikat dari jangkauan. Mereka juga tidak diperbolehkan menyapu rumah saat hari pertama tahun baru karena itu artinya mengusir keberuntungan yang sudah hadir di rumah.

2. Menghias Diri Dengan Warna Merah
Screenshot 2015-02-16 10.21.22
foto: sidomi.com

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, nian atau sejenis makluk buas yang hidup di dasar laut atau gunung akan keluar saat musim semi atau saat tahun baru Imlek. Kedatangan mereka pun dilanjutkan dengan mengganggu manusia, terutama anak kecil. Namun jangan khawatir. Menghias rumah, pakaian, dan aksesoris berwarna merah dapat mengusir nian karena ia takut dengan warna merah. So, tidak heran kalau nuansa merah begitu jelas terlihat saat Imlek.

3. Mengisi dan Membagikan Angpao
Bagi anak-anak dan masih lajang, Imlek berarti banjir uang karena orang tua atau mereka yang sudah menikah diwajibkan memberikan angpao. Jumlahnya nggak harus besar kok. Yang penting berupa uang kertas baru, dan bukannya berbentuk uang logam. Bagi-bagi angpao juga dipercaya makin memperlancar rejeki di kemudian hari.

4. Mempersiapkan Makanan
Kue keranjang dan jeruk juga menjadi ciri khas Hari Raya Imlek. Tidak hanya itu, saat Imlek mereka juga menyajikan makanan di atas nampan berbentuk, segi 6, segi 8, atau bulat dengan isian bermacam-macam, seperti buah kering, biji-bijian, kacang-kacangan, dan permen. Beberapa orang juga menyiapkan makanan keberuntungan seperti mie yang tidak dipotong untuk melambangkan umur panjang, serta kue bola berbentuk uang Cina pada jaman dulu yang melambangkan kekayaan. Satu lagi, saat Imlek mereka disarankan untuk menghindari makan bubur karena bagi warga Tionghoa, bubur melambangkan kemiskinan.

5. Kembang Api Dan Barongsai
Screenshot 2015-02-16 10.27.18
Menyalakan kembang api dan menontot barongsai juga menjadi tradisi perayaan Imlek yang sangat umum dijumpai di Indonesia. Acaranya yang begitu meriah tidak hanya menarik perhatian warga Tionghoa tetapi juga masyarakat umum karena akan terasa begitu meriah dengan tabuhan instrumen yang begitu nyaring. Menyalakan kembang api dan melakukan pertunjukan barongsai dipercaya menjadi salah satu cara untuk mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu manusia.

6. Dilarang Membalik Ikan Saat Menyantapnya
Menikmati ikan saat Imlek juga sangat unik. Ikan yang biasa disantap adalah bandeng. Kita tidak boleh membalik ikan untuk mengambil daging ikan pada bagian bawah. Ditambah lagi, kita tidak boleh menghabiskan ikan tersebut dan menyisakannya agar bisa dinikmati esok hari. Masyarakat Tionghoa percaya kalau kebiasaan ini merupakan lambang dari nilai surplus untuk tahun yang akan datang.

7. Mengunjungi Sanak Saudara
Tidak hanya saat lebaran, Imlek juga menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi saudara agar tali persaudaraan tidak putus. So, tidak heran kalau pada momen tersebut banyak orang dari etnis Tionghoa yang pulang kampung untuk merayakan bersama keluarga mereka.

(Visited 811 times, 1 visits today)

Comments

To Top