Destinasi

Mengintip kehidupan Suku Sasak di Desa Sade, Lombok

desa-sade

Plesiran ke Lombok, tidak harus selalu menjadikan pantai sebagai destinasi utama. Berwisata ke Desa Sade dapat memberikan sensasi liburan berbeda. Di sini, traveler bisa menyaksikan bagaimana masyarakat menolak modernisasi dan memilih menjaga kelestarian tradisi mereka.

Seperti halnya Desa Adat Penglipuran di Bali, Lombok juga memiliki desa wisata yang secara khusus dijadikan tempat melestarikan suatu budaya. Adalah Desa Sade, tempat di mana kamu bisa secara langsung melihat kehidupan sehari-hari suku asli Pulau Lombok, yakni suku Sasak.

desa-sade

foto : wisatalombok.info

Dengan bantuan seorang pemandu, wisatawan akan diajak mengelilingi desa. Pelestarian budaya tradisional sudah bisa dilihat saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan wisata Desa Sade. Tampak bangunan rumah tradisional, dengan atap dari rumbia serta dinding yang terbuat dari anyaman kayu.

Lantai rumah-rumah di Desa Sade ini juga hanya beralaskan tanah dan umumnya dilumuri kotoran kerbau. Uniknya, pengunjung tidak akan mencium bau kotoran kerbau selama di dalam rumah.

Rumah sederhana di Desa Sade ini berukuran kecil, hanya sekitar 7×5 meter dan dibagi menjadi dua ruangan, yaitu bale dalam dan bale luar. Bale luar ini adalah area untuk ruang tidur laki-laki dan tempat menerima tamu.

Meski dimanfaatkan sebagai ruang tamu, jangan membayangkan ada seperangkat kursi tamu yang biasa dijumpai di rumah-rumah pada umumnya. Di Desa Sade, bale luar ini hanya berisi tempat tidur serta beberapa barang lainnya.

Sementara itu bale dalem berada di bagian belakang dan dihubungkan anak tangga yang berjumlah tiga buah sebelum memasuki pintu berukuran kecil. Jumlah anak tangga ini bukan sembarangan, karena memiliki makna khusus. Berdasarkan filosifi suku Sasak, manusia melewati tiga tahapan, yaitu kahir, berkembang dan mati yang disebut Wetu Telu.

Bagian ini merupakan ruang yang lebih privasi dan terdapat tungku untuk memasak serta ruang tidur perempuan. Di ruangan ini pula, warga Desa Sade melahirkan anak mereka. Di bagian ini tidak terdapat jendela serta terkesan gelap karena sumber penerangan hanya berasal dari lampu kecil yang diletakkan di pojok ruangan.

Selesai mengelilingi tiap-tiap ruangan, Desa Sade juga memiliki bangunan khas lainnya, yaitu lumbung padi atau yang lebih dikenal dengan sebutan berugak oleh suku Sasak. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil bumi, bagian bawah berugak juga sering dimanfaatkan wadah berkumpul warga Desa Sade. Berugak juga menjadi ikon setiap bangunan pemerintah di Pulau Lombok.

Jika pengunjung ingin membawakan buah tangan khas Lombok, di Desa Sade terdapat banyak penjual cenderamata yang juga menjadi sumber mata pencaharian mereka. Kalung, gelang dan wadah perhiasan bisa menjadi pilihan oleh-oleh. Tapi, jika traveler ingin yang lebih khas, kain tenun ikat  menjadi pilihan utama sebagai barang kenang-kenangan.

Di Desa Sade juga pelancong bisa secara langsung menyaksikan proses pembuatan kain tenun, mulai dari pemintalan benang hingga menjadi kain tenun ikat dengan berbabagai motif dan corak.

 

Lokasi Desa Sade

Lokasi Desa Sade tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok. Hanya dengan waktu tempuh hingga 30 menit, kamu sudah bisa mencapai desa ini.

Lokasi persis Desa Sade berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Dari Mataram, traveler mesti melalui perjalanan selama kurang lebih dua jam sebelum bisa merasakan aktivitas warga suku Sasak di desa ini.

(Visited 359 times, 1 visits today)

Comments

To Top