Rekomendasi

Malioboro, surga cinderamata terbesar di Indonesia

malioboro-yogyakarta

Udah pernah ke Malioboro belum, travelers? Belum? Waduh .. apa kata dunia! Tapi nggak usah galau. Meski Malioboro bukanlah alam liar, gunung yang tinggi terjal atau pantai yang belum tersentuh manusia, kamu tetap memerlukan beberapa persiapan khusus sebelum mendatangi ikon wisata Kota Yogyakarta. Persiapan apa sajakah itu?

malioboro-yogyakarta

foto : batikmalioboro.com

Sejarah Jalan Malioboro

Menurut beberapa sumber, Jalan Malioboro dibangun sezaman dengan Keraton Yogyakarta yang berfungsi sebagai jalan yang dipake  rombongan Sultan Yogyakarta untuk perjalanan dinas atau untuk bertemu rakyatnya, travelers. Di jalan inilah mereka biasanya melintas dengan mengendarai kereta kuda yang dihias dengan aneka macam bunga. Oleh karena itu jalan ini dinamakan ‘Malioboro’, istilah dalam bahasa Sanskerta yang artinya ‘karangan bunga’.

Jalan Malioboro juga berfngsi sebagai penghubung imajiner titik utara (Gunung Merapi) dan selatan (Pantai Parangtritis) Kota Yogyakarta yang sarat dengan nuansa spiritual. Selain Jalan Malioboro, beberapa penghubung imajiner lain yang berada di jalur utara-selatan tersebut adalah Tugu Yogyakarta, Kraton Yogyakarta dan Panggung Krapyak yang semuanya masih berdiri dengan kokoh dan bisa kamu kunjungi saat kamu berkunjung ke Kota Yogyakarta.

Dulu banget kalo kamu berdiri di Alun-alun Utara Yogyakarta yang ada di depan Keraton, kamu bisa melihat Tugu Yogyakarta dan Gunung Merapi sebagai latar belakangnya, travelers. Tata ruang kota ala Sultan Yogyakarta ini mulai terganggu ketika imperialis Belanda datang ke kota ini di tahun 1790 dan membangun Benteng Vredeburgh, Kantor Pos dan Java Bank (sekarang gedung BI). Trus Belanda juga membangun Stasiun Tugu, dan ini cukup fatal dalam merusak kesinambungan Jalan Malioboro-Tugu Yogyakarta karena ada rel kereta api yang membelah Jalan Malioboro-Tugu sampai saat ini.

Tak berapa lama sesudah Belanda membangun gedung-gedung di sekitar Jalan Malioboro, para pedagang Tionghoa membuka warung makan, toko kelontong dan pakaian. Di masa kemerdekaan jumlah toko-toko semakin bertambah dan Jalan Malioboro di era modern pun semakin penuh sesak dengan mall, hotel-hotel serta penjual aneka pernak-pernik khas Yogyakarta.

Di era 80-90an Jalan Malioboro menjadi hidup karena menjadi tempat mangkalnya para seniman yang diketuai oleh Umbu Landu Paranggi. Mereka biasanya duduk di trotoar (lesehan) sambil ngopi dan berdiskusi ringan untuk menghasilkan karya seni bersama-sama. Berbagai pertunjukan seni dulu sering digelar di Jalan Malioboro dan bisa disaksikan siapapun tanpa harus bayar. Seniman seni rupa juga banyak yang nongkrong di sini buat membikin sketsa Jalan Malioboro.  Kalo lagi beruntung kamu masih bisa menemukan mereka di sekitar Malioboro saat ini, travelers. Mereka biasanya adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Sayangnya, fungsi Malioboro sebagai tempat nongkrong para seniman makin lama makin tersingkir oleh meledaknya jumlah pedagang kaki lima. Dan seperti itulah wajah Jalan Malioboro yang bisa kamu lihat saat ini.

Waspada saat belanja di Malioboro

Beberapa orang terinspirasi oleh kebiasaan duduk di trotoar yang dilakukan para seniman Malioboro, travelers. Mereka menerapkannya dengan membuka beberapa warung makan di mana pengunjung ngga duduk di kursi, tapi di trotoar yang beralaskan tikar. Warung semacam ini disebut warung lesehan dan kamu bisa menemukannya di beberapa titik di Malioboro. Meski warung lesehan semacam ini kayaknya sederhana, tapi harga makanan yang ditawarkan jauh dari sederhana alias mahal banget.

Warga lokal dan pendatang yang tinggal di Yogyakarta dah paham banget tentang ini sehingga mereka sangat menghindari makan di Malioboro kecuali kalo sedang kepepet. Tapi turis yang baru pertama kali datang ke Yogyakarta mungkin nggak ngerti sehingga sering kali ngedumel karena terkuras isi dompetnya setelah makan di warung lesehan Malioboro. Saran Pegipegi, bertanyalah dulu pada si empunya warung lesehan sebelum kamu membeli atau makan di warung lesehan Malioboro.

Hal yang sama juga berlaku kalo kamu mau membeli barang apapun yang ditawarkan pedagang kaki lima Malioboro, atau buat naik delman atau becak buat keliling Malioboro, travelers. Jangan ragu untuk menawar sampai separuh (lebih juga boleh) dari harga yang ditawarkan. Trus periksa juga kondisi barang yang kamu inginkan, apa ada cacat atau tidak. Kalo pedagangnya masih ngotot, ya tinggalin aja karena barang yang ditawarkan PKL Malioboro pasti juga dijual oleh PKL lainnya. Atau kamu belanja oleh-oleh di Pasar Beringharjo aja, travelers. Pasar ini bisa kamu temukan di sisi kiri Jalan Malioboro, sekitar 100 meter dari Benteng Vredeburgh dan harga barang yang ditawarkan di sini nggak separah harga PKL Malioboro.

Wah, jadi makin penasaran pengen ke Malioboro! Tapi jangan buru-buru berangkat, travelers. Lebih baik kamu cek dulu info keberangkatan pesawat dan booking hotel nyaman terjangkau di sekitar Malioboro di Pegipegi.com.

(Visited 307 times, 1 visits today)

Comments

To Top