Destinasi

Keraton Solo, unik dengan paduan arsitektur Jawa – Eropa

Keraton Solo

Dibandingkan Keraton Yogyakarta, Keraton Solo seolah kurang begitu moncer di mata wisatawan. Padahal salah satu istana peninggalan Kesultanan Mataram atau Kerajaan Mataram Islam ini adalah bangunan dengan arsitektur eksotis yang dikagumi banyak orang pada masa kejayaannya.

Keraton Solo

foto: citytourindonesia.com

Sejarah Keraton Solo

Kamu tau ngga sih kalo dulu suasana di Tanah Jawa ini jauh dari aman dan damai. Perebutan kekuasaan, pemberontakan dan konflik politik mewarnai kisah di balik berdirinya kerajaan-kerajaan termasyur yang kita kenal sekarang. Termasuk Kasunanan Surakarta, pemilik sah Keraton Solo Mangkunegaran.

Sejarah berdirinya Keraton Solo berawal ketika Sunan Amral memindahkan ibukota Kesultanan Mataram (Mataram Islam) ke Kartasura, akibat kacaunya situasi dalam negeri setelah terjadi pemberontakan oleh Trunojoyo di tahun 1677. Tapi konflik politik bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi, travelers.

Kesultanan Mataram yang saat itu ibukotanya ada di Kartasura kembali mengalami pemberontakan di tahun 1742 oleh kalangan Tionghoa dan Jawa yang tidak suka dengan kebijakan Sunan Pakubuwana II, raja Mataram saat itu, yang dinilai terlalu lemah terhadap VOC, para pedagang pendatang dari Belanda. Istana raja di Kartasura rusak parah akibat pemberontakan itu dan Pakubuwana II memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala, tempat di mana Keraton Solo berdiri saat ini.

Mengapa Keraton Solo mirip dengan Keraton Yogyakarta?

Pertanyaan ini mungkin akan terlintas di benakmu kalo kamu udah pernah mengunjungi dua keraton kharismatik di Pulau Jawa. Tentu saja Keraton Solo mirip dengan Keraton Yogyakarta karena keduanya dibangn oleh arsitek yang sama, yaitu Pangeran Mangkubumi alias Sultan Hamengkubuwana I, raja pertama Kesultanan Yogyakarta.

Baik Keraton Solo dan Keraton Yogyakarta sama-sama memiliki Alun-alun Utara dan Selatan dengan dua pohon beringin. Juga sebuah pendopo luas di bagian depan keraton (di Keraton Solo bagian ini dinamakan Sasana Sumewa). Bedanya, gaya arsitektur Keraton Solo lebih berbau Eropa daripada Keraton Yogyakarta. Nuansa biru dan putih banyak ditemukan di berbagai ruangan Keraton Solo yang mulai dibangun di tahun 1745.

Semua bagian dalam Keraton Solo terbuka buat wisatawan, kecuali Sasana Pustaka, Sasana Sewaka dan Maligi, dengan alasan privasi karena sampai saat ini Keraton Solo masih didiami oleh keluarga Sri Sunan Surakarta Pakubuwana XIII yang saat ini naik takhta.

Memang beliau tak lagi menjadi raja dalam arti sebenarnya seperti para penguasa Kasunanan Surakarta terdahulu. Posisi Sri Sunan Surakarta dan Keraton Solo saat ini kurang lebih sama dengan Sultan dan Keraton Yogyakarta, yaitu sebagai Pemangku Adat Jawa atau pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa.

Beberapa bagian dalam Keraton Solo yang boleh dikunjungi wisatawan adalah Kori Kamandungan yang ada di sisi utara Keraton Solo. Di sini kamu bisa melihat cikal bakal bendera Merah Putih, yaitu Gendera Gula Klapa. Trus ada juga Bangsal Marcukundha yang dulu dipakai sebagai ruang pengadilan dan konon di sinilah batu tatakan yang dipakai buat memenggal kepala Trunojoyo disimpan.

Bagian lain Keraton Solo yang mungkin akan membuatmu tertarik adalah Kedhaton yang memiliki artsitektur khas Jawa dengan pendopo nan luas dan halaman yang rindang dan sejuk karena ditumbuhi berbagai pohon yang kini sudah langka. Pelataran Kedhaton juga dihiasai berbagai patung bergaya Eropa yang kemungkinan besar didapat para pendahulu Kasunanan Surakarta sebagai hadiah dari VOC.

Ada juga Sasana Handrawina, sebuah bangsal luas yang dihiasi lampu kuno bergaya Eropa. Di depannya ada tiga ruangan yang lebih kecil lagi ukurannya, yaitu Bangsal Pradangga (tempat di mana gamelan ditabuh), trus ada juga Bangsal Musik (tempat untuk memainkan orkes musik klasik) dan Bangsal Bujana (tempat para pengawal tamu kerajaan akan dijamu dengan makanan yang enak-enak).

Para pengunjung yang datang ke Keraton Solo diwajibkan memakai pakaian rapi, yaitu bercelana panjang dan bersepatu (wuih .. kok kayak mau ngantor ya?). Kalo kamu pake sandal, maka kamu harus melepasnya. Ngga boleh pakai kacamata hitam, topi, jaket, apalagi celana pendek. Kalo terlanjur pakai celana pendek kamu wajib meminjam jarik atau kain batik untuk kamu gunakan selama berkeliling di sekitar area Keraton Solo Mangkunegaran.

Ingin bertamu ke rumah Sri Sunan Surakarta sekarang? Pegipegi akan membantumu buat memesan tiket pesawat ke Solo sekaligus booking hotel nyaman terjangkau di sana. So, hubungi Pegipegi sekarang ya!

 

(Visited 874 times, 1 visits today)

Comments

To Top