Destinasi

Klenteng Sam Poo Kong, Jejak Peradaban Cina di Pulau Jawa

Kota Semarang dikenal sebagai salah satu ‘kantong’ bangunan-bangunan tua peninggalan era Kolonial, bahkan ada juga yang udah berdiri sebelum para Meneer dari Belanda itu datang ke negeri kita. Salah satunya adalah Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Sam Po Kong.

Klenteng_SamPoKong (6)

foto: Indonesia.travel

Menurut Wonderful Indonesia di situs officialnya, luas Klenteng Sam Po Kong adalah sekitar 1020 meter dengan nuansa merah yang sangat dominan sampai ke sudut-sudutnya. Asal tau aja, travelers, Klenteng Sam Po Kong spesial karena unsur sejarah dan persatuan antar umat beragama yang melatarbelakangi kisah pendiriannya.

Tempat beristirahat Laksamana Muslim Cina

Zaman dulu banget (tahun berapa kurang jelas karena minimnya catatan sejarah) ada seorang laksamana bernama Zheng He sedang berlayar melewati Laut Jawa. Karena awak kapalnya banyak yang sakit, Laksamana Zheng He (juga dikenal dengan nama Cheng Ho dan Sam Po Tay Djien) memerintahkan agar kapal mendarat di pantai utara Semarang, tepatnya di sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kali Semarang.

Di sini Laksamana Cheng Ho menemukan sebuah gua batu yang saat itu letaknya persis di tepi pantai. Suasana yang sepi dan suara debur ombak yang menenangkan di sekitar gua itu membuatnya cocok sebagai tempat untuk mengheningkan cipta memuja Sang Pencipta, alias beribadah.
Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam akhirnya menjadikan gua itu sebagai tempatnya melakukan sholat. Uniknya, Laksamana Cheng Ho juga menjadikan gua itu sebagai tempat beribadah untuk para awak kapalnya yang beragama Budha. Laksamana Cheng Ho memutuskan untuk beristirahat sejenak di Simongan dan mengajarkan tentang ilmu bersawah kepada masyarakat setempat sebelum melanjutkan pelayarannya kembali ke Tiongkok.

Klenteng bernuansa Jawa

Sayang, travelers, gua tempat Laksamana Cheng Ho beribadah tertimbun batuan akibat longsor di tahun 1704. Masih menurut Wonderful Indonesia, masyarakat setempat berinisiatif mendirikan sebuah bangunan untuk mengenang segala kebaikan yang pernah dilakukan Sang Laksamana ketika berlabuh di desa mereka. Maka didirikanlah sebuah altar lengkap dengan patung Laksamana Cheng Ho berikut para pengawalnya yang masih dapat kita lihat kemegahannya sampai sekarang.

Tak diketahui dengan jelas siapakah arsitek bangunan yang didirikan di abad ke-14 ini. Tapi aroma budaya Jawa bisa kamu lihat di sejumlah elemen pembentuknya, misalnya ornamen hias, tangga, penataan furniture, dll. Klenteng Sam Po Kong terdiri dari dua bagian, yaitu Klenteng Besar sebagai tempat pemujaan untuk Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan Kyai Tumpeng. Sedangkan gua tempat Cheng Ho beribadah atau gua Sam Po Kong memiliki mata air ajaib yang nggak pernah kering/habis airnya.

Wah asyik ya kalo bisa jalan ke Klenteng Sam Po Kong akhir pekan ini. Nah, mending sekarang kamu pesan tiket pesawat ke Semarang dulu deh di Pegipegi biar nggak kehabisan, travelers.

(Visited 295 times, 1 visits today)

Comments

To Top