Destinasi

Keindahan desa-desa ini bikin kamu ingin meninggalkan kota!

Desa identik dengan suasana senyap, jalanan berbatu, rumah-rumah yang terbuat dari bambu,  tanpa bangunan megah ala perkotaan, apalagi mall. Kamu yang udah sejak lahir tinggal di kota mungkin akan mengernyitkan dahi dan mikir, apa sih asiknya tinggal di desa?

Dengan mengunjungi pedesaan kamu bisa menemukan dan menikmati hal-hal yang selama ini cuma jadi impian masyarakat perkotaan. Misalnya, jalan yang bebas macet, udara segar tanpa polusi, pepohonan rindang, suara jangkrik di malam hari, suara cicit burung di pagi hari, penduduk yang ramah, dan .. dan .. apalagi ya? Wah, pokoknya banyak banget, travelers!

Ada beberapa desa di Tanah Air yang mendapat anugerah berupa panorama alam yang sangat indah, tiada duanya, bahkan lebih indah dari tempat wisata populer lainnya. Pegipegi memilih beberapa di antaranya berikut ini.

Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur

sembalun_lawang

Desa Sembalun Lawang menjadi lokasi favorit buat mereka yang hendak mendaki Gunung Rinjani, salah satu gunung sekaligus obyek wisata legendaris di Pulau Lombok. Ya, Desa Sembalun Lawang memang terletak di kaki Gunung Rinjani, tepat di ketinggian 1156 m. Kamu bisa mencapai desa ini setelah berkendara selama 4 jam dari Kota Mataram. Meski lama dan bikin bokong kamu terasa panas, kamu dijamin nggak bakal bosan, travelers. Hutan lebat, ladang pertanian serta hamparan laut Gili Trawangan di kejauhan akan menemani kamu selama perjalanan. Kamu juga bisa melihat para petani yang berladang dengan cara tradisional.

Desa Sembalun terdiri dari dua buah desa, yaitu Desa Sembalun Lawang dan Desa Sembalun Bumbung, dan keduanya terpisah dengan jarak sekitar 2 kilometer. Desa Sembalun Lawang sendiri sejatinya adalah sebuah desa adat, mengingat masih digunakannya rumah tradisional Suku Sasak yang lantainya terbuat dari kotoran sapi sebagai tempat tinggal warga setempat. Di Kawasan Rumah Adat kamu juga bisa menemukan Makam Reban Bande yang dipercaya sebagai tokoh penyebar agama Islam di Sembalun. Selain itu, di sini upacara adat Ngayu-ngayu masih sering dilakukan sebagai ritual memanggil hujan dan penghormatan terhadap alam.

Desa Juhu, Kalimantan Selatan

desa juhu

Berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Peribahasa ini kayaknya cocok buat menggambarkan perjalanan yang harus kamu tempuh untuk mencapai Desa Juhu, sebuah desa kecil yang terdapat di Pegunungan Meratus, wilayah dari Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Gimana enggak, travelers, desa di ketinggian 560 mdpl ini terletak jauh di dalam hutan dan tak ada jalan atau kendaraan yang bisa dipakai untuk menjangkaunya. Warga asli mengaku mereka ‘hanya’ membutuhkan waktu selama 10 jam untuk berjalan kaki dari Desa Kiyu menuju Desa Juhu yang berjarak sekitar 14 km. Kalo penduduk lokal aja butuh waktu segitu lama untuk sampai ke rumah mereka, trus gimana dengan traveler yang baru pertama kali berkunjung ke sana? Tanpa bantuan pemandu, mungkin kamu baru akan sampai setelah 2 hari berjalan di hutan, travelers!

Tapi, perjuangan kamu menuju Desa Juhu berbuah manis sesampainya kamu tiba di desa tertinggi di Propinsi Kalimantan Selatan ini. Di desa ini kamu bisa menikmati udara segar, pemandangan pagi yang menakjubkan seperti deretan pepohonan yang diselimuti kabut dan menjalin persahabatan dengan Suku Dayak Meratus, penduduk asli Desa Juhu yang terkenal sangat ramah. Rerumputan di desa ini tumbuh liar, tapi tampak rapi dan subur berkat kerbau yang berkeliaran bebas. Kerbau-kerbau akan memakan rumput sehingga rumput tidak akan tumbuh tinggi, sedangkan kotorannya akan menyuburkan tanah.

Desa Tuktuk Siadong, Sumatera Utara

Tuktuk Siadong

Berencana jalan ke Pulau Samosir tapi bingung harus nginap di mana? Desa Tuktuk Siadong yang terletak di tanjung Pulau Samosir merupakan tempat persinggahan bagi para turis yang berkunjung ke sini, bahkan nama desa ini tercantum dalam buku panduan wisata berkelas internasional.

Panorama Danau Toba yang memukau itu bisa kamu nikmati dengan leluasa di sini, berbaur dengan budaya Batak Toba yang masih terjaga dalam bentuk arsitektur rumah warga dan kesenian tradisional . Uniknya, ada sebuah pantai pusir putih di Desa Tuktuk Siadong, persis seperti yang biasa kamu temui waktu berkunjung ke pesisir, hanya saja airnya bukan air asin melainkan air tawar. Kamu bisa berenang di sini sambil memandangi perbukitan yang mengelilingi Danau Toba, menyelam atau naik perahu keliling Danau Toba. Tapi kabut bisa datang sewaktu-waktu, dan suhu air danau bisa berubah menjadi sangat dingin.

Desa Argosari, Lumajang, Jawa Timur

desa argosari lumajang

Berkunjung ke Gunung Bromo lewat jalur Lumajang memang kurang populer dibandingkan jalur menuju Gunung Bromo lewat Pasuruan atau Probolinggo. Padahal pemandangan di sisi lain Gunung Bromo ini tak kalah indah dan pasti bikin kamu selalu mengenangnya. Adalah Desa Wisata Argosari, wilayah Kecamatan Seduro yang berjarak sekitar 40 km dari Kota Lumajang yang beruntung dianugerahi pemandangan menakjubkan itu oleh Pembuat Hidup.

Di sini kamu bisa jalan kaki menuju Puncak B-29 yang merupakan titik tertinggi di lautan pasir Gunung Bromo jalur Lumajang. Tempat ini dinamakan B-29 karena terletak di ketinggian 2900 meter dari permukaan laut. Tebarkanlah pandanganmu dan kamu akan melihat deretan perkebunan sayur yang ditata apik, menyatu dengan pegunungan Mahameru dan puncak gunung Semeru yang menyembul di kejauhan. Di sisi lain kamu juga bisa melihat kaldera Gunung Bromo beserta lautan pasirnya dikelilingi awan yang seolah bergerak menuju ke arahmu. Kalo beruntung, kamu juga bisa melihat sunset dan sunrise yang aduhai di tempat ini.

Wuiih, membacanya saja sudah seru ya, travelers. Kalo ada kesempatan, pastikan kamu bisa mengunjungi desa-desa tersebut, dijamin nggak akan nyesel!

(Visited 1,554 times, 1 visits today)

Comments

To Top