Destinasi

Keindahan arsitektur kuno di Taman Sari Yogyakarta

taman-sari-water-castle

Usia boleh tua, tapi Taman Sari Yogyakarta tak pernah kehilangan pesonanya. Keindahan arsitektur kuno serta pemandangan menakjubkan menjadikan Taman Sari sebagai salah satu objek wisata tak lekang oleh waktu.

taman-sari-water-castle

foto : gateofjava.wordpress.com

Bicara soal Yogyakarta, tak melulu soal kekayaan budaya serta pantainya yang indah, tapi juga keberadaan bangunan bersejarah dengan arsitektur ciamik. Selain bangunan Keraton, ada Taman Sari yang menjadi ikon Kota Pelajar.

Karena memiliki nilai arsitektur yang unik serta kolam air menjadi ciri khas, bangunan ini kemudian kerap juga disebut Taman Sari Water Castle atau Istana Air Taman Sari.

Yang tersisa dari Taman Sari

Taman Sari Yogyakarta dibangun di zaman Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758-1769. Raja memerintahkan Demak Tegis, arsitek berkebangsaan Portugal, untuk mendesain bangunan ini yang kemudian dimandori oleh Bupati Madiun.

Di awal pembangunannya, Taman Sari Yogyakarta memiliki luas lebih dari 10 hektar dan sejumlah areal berupa gedung, kolam pemandian, kanal air, danau buatan atau segara bahkan lorong bawah air dengan total 57 bangunan.

Sayang, saat ini tidak banyak bangunan Taman Sari Yogyakarta yang tersisa. Meski demikian, kondisi sisa bangunan ini masih tetap terjaga dan keunikan arsitekturnya tetap mengundang kekaguman.

Untuk bisa menikmati kecantikan arsitektur Taman Sari Yogyakarta, kamu hanya akan dipungut biaya tiket masuk sebesar Rp 3.000 untuk wisatawan lokal, semenatara turis asing dikenai biaya lebih mahal, sebesar Rp 7.000.

Kalau kamu penasaran dengan sejarah serta kisah mistis yang mengiringi Taman Sari Yogyakarta, banyak pemandu yang menawarkan jasanya di pintu masuk. Meski tidak mematok tarif tertentu, kisaran harga untuk jasa tour guide ini sebesar Rp 25.000.

Sebuah gapura yang gagah menyambut para pengunjung Taman Sari Yogyakarta. Begitu melewati gapura panggung, kamu akan disambut sebuah kolam pemandian. Dulu, bagian ini tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Hanya Sultan dan keluarganya yang boleh menginjakkan kaki di area ini.

Dikelilingi tembok-tembok yang sudah agak usang namun tetap gagah, suasana kolam air Taman Sari Yogyakarta tetap menyejukkan dengan suara gemericik air. Ada tiga bagian dari kolam pemandian ini, yaitu Umbul Kawitan sebagai kolam untuk putra-putri raja, lalu kolam khusus para selir di Umbul Pamuncar, sementara raja sendiri berada di Umbul Panguras.

Setelah puas menikmati keindahan kolam, kamu bisa menuju Gapura Agung. Didominasi ukiran bunga serta sayap burung menjadikan gapura di Taman Sari Yogyakarta ini salah satu spot favorit pengunjung. Konon, di sinilah kereta kencana yang biasa dinaiki keluarga Sultan untuk menjemput empunya.

Ada pula pesanggrahan yang dijadikan tempat Sultan memikirkan strategi sebelum perang. Tak hanya itu, wilayah ini juga dijadikan tempat untuk menyimpan senjata, baju perang, serta pencucian keris.

Bangunan lain yang tersisa dari Taman Sari Yogyakarta adalah Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk tiba di kedua tempat tersebut, pelancong mesti melewati tajug atau lorong yang menjadi penghubung antara Taman Sari dan keraton serta Pulo Kenongo.

Sumur Gumuling merupakan tempat ibadah raja dan keluarganya di zaman dulu. Posisinya ada di bawah tanah, namun bangunan dua tingkat ini memiliki nilai seni yang memukau.

Terakhir adalah Gedung Kenongo, tempat raja bersantap bersama keluarga. Gedung Kenongo juga jadi bangunan tertinggi di Taman Sari. Jika kamu kebetulan datang saat sore, pemandangan sunset dari atas gedung bisa memanjakan mata. Pengunjung bisa melihat Taman Sari Yogyakarta dengan gamblang dari atas Gedung Kenongo ini.

Masih ada waktu untukmu untuk menikmati salah satu saksi sejarah ini, travelers. Segera rencanakan traveling ke Yogyakarta dan kunjungi Taman Sari beserta objek terdekat lainnya. Jangan lupa pesan tiket pesawat ke Jogja dan booking hotel murah Jogja hanya di pegipegi.com!

(Visited 252 times, 1 visits today)

Comments

To Top