Destinasi

Kampung Adat Ciptagelar, tak berubah sejak 600 tahun lalu?

Kampung Adat Ciptagelar

Bertandang ke suatu tempat eksotis ngga lengkap kalo kita ngga mengenal budaya masyarakatnya. Kampung Adat Ciptagelar adalah tempat yang musti kamu kunjungi jika kamu penasaran dengan asal usulmu, tentang seperti apa sih cara Suku Sunda hidup ratusan atau ribuan tahun silam.

Menjadi anak muda kekinian emang ngga dilarang, bahkan wajib hukumnya supaya ngga tergerus arus globalisasi. Tapi sebuah pohon nggak akan bisa tumbuh besar kalo dia nggak mempunyai akar. Demikian juga manusia ngga akan bisa menjadi besar kalo dia melupakan akarnya, tempat dari mana ia berasal. Ibarat butiran debu ia hanya akan terombang-ambing mengikuti arus mainstream dan tenggelam karena tak bisa menemukan jati dirinya, sesuatu yang akan membuat hidupnya lebih bermakna.

Sejarah Kampung Adat Ciptagelar

Kampung Adat Ciptagelar

foto: pariwisata-sukabumi.blogspot.com

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa Kampung Adat Ciptagelar ini sama kayak Kampung Naga Suku Baduy? Bukankah mereka sama-sama Urang Sunda? Menurut para ahli sejarah, Suku Baduy adalah suku asli penghuni Tanah Sunda dan mereka ngga pernah menjadi bawahan atau bagian dari wilayah kerajaan manapun yang pernah ada di Jawa.

Sedangkan para pendiri Kampung Adat Ciptagelar adalah pasukan Kerajaan Sunda yang setia kepada Prabu Siliwangi dan mereka dibebaskan dari tugas karena Prabu Siliwangi hendak moksa. Para eks prajurit memisahkan diri menjadi tiga kelompok dan mereka mendirikan kampung-kampung baru yang saling berhubungan baik satu sama lain.

Salah satu di antara kampung-kampung yang didirikan eks prajurit Siliwangi adalah Kampung Gede yang berfungsi sebagai pusat kasepuhan (kasepuhan=kelompok masyarakat yang masih melakukan tradisi lama) yang diberi nama Kampung Gede. Kampung Gede sendiri pernah beberapa kali berpindah tempat untuk menghindar dari pengaruh imperialis Jepang dan konflik politik DI/TII.

Saat ini Kampung Gede termasuk dalam wilayah administratif Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gisolok, Kabupaten Sukabumi. Dan sejak tahun 2001 Kampung Gede berubah nama menjadi Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, atau Kampung Adat Ciptagelar.

Anganmu mungkin akan melayang ke masa silam ketika kamu melangkahkan kaki menuju Kampung Adat Ciptagelar. Rumah-rumah penduduk Kampung Adat Ciptagelar yang masih terbuat dari bambu dan kayu memang tampak sederhana. Jalan Kampung Adat Ciptagelar belum beraspal dan sebagian rumah warga belum dialiri listrik. Namun suasana Kampung Adat Ciptagelar tampak begitu damai dan tentram di tengah-tengah areal sawah dan perkebunan milik warga, hutan dan Gunung Halimun yang menjulang di kejauhan. Percaya nggak sih kalo keadaan Kampung Adat Ciptagelar ya seperti itu saat pertama kali didirikan 600 tahun yang lalu?

Kebijaksanaan lokal warga Kampung Adat Ciptagelar yang membawa berkah

Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi memang beragama Islam, travelers. Namun mereka telah berkomitmen untuk menjaga adat istiadat yang telah diajarkan secara turun menurun, baik yang berupa seremonial atau tentang petunjuk berkegiatan sehari-hari. Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar percaya bahwa alam semesta bergerak dengan keseimbangan dan keteraturan. Dan seseorang yang ingin hidupnya bahagia sebaiknya bisa menyatukan dirinya dengan alam sekitarnya dan menjaga keteraturan alam ini dengan menyelaraskan ucapan, tingkah laku dan tekad agar tidak saling bertentangan dan menimbulkan kekacauan.

Sedangkan seremonial Kampung Adat Ciptagelar yang paling ditunggu-tunggu adalah upacara Seren Taun, sebuah ritual untuk mewujudkan rasa syukur atas hasil panen. Upacara adat ini biasanya diadalan setiap tahun, tepat pada minggu pertama bulan September. Wah, sebentar lagi dong, travelers! Trus upacara adat lain yang cukup menyedot perhatian wisatawan adalah semacam pentas seni di setiap malam ke-14 sebelum malam bulan purnama. Kamu bisa menikmati beberapa pertunjukan kesenian tradisional sekaligus seperti pagelaran angklung, wayang dan ada juga Tari Jaipong.

Ada beberapa jalur yang bisa kamu pilih buat mendatangi Kampung Adat Ciptagelar, travelers. Salah satunya adalah jalur menuju Kampung Sukamulya dari arah Pelabuhan Ratu yang memanjang sekitar 28 km. Berkendara di jalur ini dijamin akan bikin kamu kehabisan kata-kata mengambarkan indahnya pemandangan. Kamu percaya nggak kalo jalur ini hanya dibangun dalam tiga hari dan pembangunannya benar-benar dikerjakan oleh warga Kampung Adat Ciptagelar sendiri secara bergotong royong, travelers?

Nah, jadi tambah penasaran aja n rasanya ngga sabar pengen cepat-cepat ke Kampung Adat Ciptagelar. Ayuk segera hubungi Pegipegi sekarang buat pesan tiket pesawat ke Bandung dan booking hotel nyaman terjangkau di Bandung dan sekitarnya.

(Visited 514 times, 1 visits today)

Comments

To Top