Destinasi

Jadi pria dewasa dengan lolos lompat Batu Nias

lompat-batu-nias

Lompat batu Nias adalah salah satu olahraga populer di tanah Nias. Kalau kamu pernah memeriksa uang Rp1.000 yang beredar tahun 1992-an, kamu bisa lihat gambar seorang anak muda dengan posisi sedang melompati sebuah batu yang ditata tinggi. Itulah Fahombo, atau lompat batu yang hingga kini masih diadakan di Desa Bawamataluo Kabupaten Nias Selatan. Biar informasi tentang lompat batu Nias kamu komplit, kali ini Pegipegi mau sharing seluk-beluk lompat batu Nias. Yuk, disimak sama-sama.

lompat-batu-nias

foto : http://persianpet.org/

Sejarah lompat batu Nias

Dalam adat dan tradisi suku Nias, lulus uji lompat batu Nias adalah salah satu tanda kalau seorang pemuda dianggap sudah dewasa. Itu artinya, sang pemuda diijinkankan ikut berperang, bisa memikul tanggungjawab sebagai pria dewasa, bahkan sudah diperbolehkan untuk menikah. Jadi tidak dianggap sebagai anak kecil terus. Tradisi lompat batu Nias ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan terus diturunkan hingga generasi sekarang. Sang ayah akan mewariskan tradisi fahombo atau lompat batu pada anak laki-laki dan begitu seterusnya.

Dulunya, masyarakat di Nias sering berperang karena berbagai masalah sensitif yang harus dihadapi antar suku, baik karena urusan tanah, perbudakan ataupun balas dendam. Untuk melindungi masing-masing desa, dibangunlah benteng dari batu atau bambu setinggi 2 meter untuk menghindari peperangan. Sejak itu, lompat batu Nias dijadikan persyaratan utama seorang anak dianggap sudah dewasa atau masih ‘remaja tanggung’.

Nggak heran sejak umur 7 tahun, anak-anak sudah berlatih ketangkasan untuk bisa melenting jauh agar batu setinggi 2 meter bisa dilompati tanpa harus ‘kepentok’ dan jatuh mengenai batu-batu keras yang membuatnya cidera. Aktivitas fisik ini memang bukan hal ringan karena ketekunan dan kerja keras saat berlatih sangat diperlukan oleh ‘anak-anak’ agar bisa lulus lompat batu Nias.

Ujian menjadi dewasa dengan lompat batu Nias

Sebenarnya, inti dari fahombo atau lompat batu Nias adalah ritual pendewasaan yang akan dihadapi oleh seorang remaja. Bisa dibilang kalau ritual ini mirip sekali dengan jenis olahraga atletik, khususnya lompat jauh dan lompat tinggi. Acara lompat batu Nias diawali dengan keberadaan batu yang tersusun rapi setinggi 2 meter, panjang 60 cm dan lebar mencapai 90 cm. Kemudian, seorang anak-anak mengambil ancang-ancang untuk bisa melampauinya. Kalau dibayangkan memang agak ngeri karena susunan batu yang harus dilompati cukup tinggi.

Rasa penasaran, gugup, dan jantung berdebar-debar pasti dialami oleh anak-anak yang tinggal di Nias. Sejak dini, anak-anak sudah mulai mengatur strategi, mendengar tips dan petuah orang-orang yang sudah lolos uji kedewasaan dalam lompat batu Nias, serta berlatih keras agar bisa mengikuti jejak ‘orang dewasa’ lainnya.

Belajar teknik yang tepat juga sangat penting lho. Kenapa? Karena si pelompat nanti harus mendarat dulu pada batu yang ada di depannya, baru kemudian melentingkan tubuh agar bisa melampaui batu yang cukup tinggi sambil mengenakan pakaian adat. Teknik mendarat juga super penting karena posisi kaki yang salah akibatnya bisa fatal. Si anak bisa patah tulang, keseleo, atau bahkan cidera otot. Karena itulah kenapa usaha untuk menjadi seorang ‘pria dewasa’ bagi anak-anak di Nias bukanlah predikat yang mudah diraih.

Lompat batu Nias sebenarnya juga mengajarkan pada pemuda tentang ketangkasan, gesit, keberanian, cepat bergerak, taktis, serta kemampuan untuk bisa berpikir cepat. Lalu, hadiah apa yang akan didapat oleh seorang anak yang bisa lolos uji lompat batu Nias? Ternyata, hadiahnya cukup istimewa karena keluarga akan menyelenggarakan pesta cukup meriah dengan menyembelih hewan ternak.

Hmm, cukup menarik ya tradisi lompat batu Nias. Travelers, kira-kira kamu bisa nggak melompat di atas batu setinggi 2 meter? Kalau gagal, itu artinya kamu belum dewasa. Itu kata masyarakat yang tinggal di Nias lho.

(Visited 2,022 times, 1 visits today)

Comments

To Top