Destinasi

Istana Maimun, saksi kejayaan Kerajaan Deli

Istana Maimun Medan

Istana Maimun, sebuah bangunan megah kebanggaan warga Medan. Tak cuma megah, istana ini juga menyimpan segudang cerita tentah kisah kejayaan Kerajaan Deli di masa lampau. Usia Istana Maimun sudah tak muda lagi, bahkan mencapai ratusan tahun. Meski begitu, ikon Medan ini masih berdiri kokoh di pusat kota dan berhasil menyedot perhatian para wisatawan.

Istana Maimun Medan

Foto oleh Rencana Tarigan www.indonesia-tourism.com

Lokasinya yang mudah ditemukan, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, membuat Istana Maimun tak pernah sepi pengunjung. Apalagi, posisinya juga berdekatan dengan objek wisata lainnya, yakni Mesjid Agung Medan. Istana Maimun Medan merupakan bangunan dua lantai dan diklaim sebagai salah satu istana tercantik di Indonesia. Istana ini menghadap ke timur dan memiliki tiga bagian, yaitu bagian induk, sayap kiri dan sayap kanan.

Warna kuning mendominasi Istana Maimun, maklum, istana ini memiliki arsitektur Melayu dengan perpaduan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Perpaduan dari beragam unsur kebudayaan inilah yang membuat Istana Maimun tampak unik dan khas.  Ciri khas arsitektur Belanda dapat kamu rasakan saat melihat bentuk pintu dan jendela yang lebar serta tinggi. Tak hanya itu, ada pula prasasti yang terbuat dari marmer di bagian depan dengan tulisan latin berbahasa Belanda.

Bagian atap yang melengkung mirip perahu terbalik terpengaruh budaya Islam. Gaya atap seperti ini terinspirasi dari bangunan-bangunan khas di Timur Tengah. Kemegahan Istana Maimun tidak hanya tampak dari luar. Setelah membayar retribusi tiket sebesar Rp 5.000, pengunjung bisa mengintip berbagai koleksi yang menjadi saksi kejayaan Kerajaan Deli di dalamnya.

Sebuah singgasana kerajaan berdiri kokoh saat memasuki ruang utama Istana Maimun. Warna kuning yang mencolok membuat singgasana ini menjadi pusat perhatian pengunjung. Di sekelilingnya, pengunjung bisa melihat rangkaian foto keluarga pemimpin kerajaan.

Alihkan pandangan kamu ke tempat lain. Terdapat lemari kaca yang di dalamnya tertata rapi sejumlah benda peninggalan kerajaan. Demi menjaga kelestarian benda bersejarah yang usianya ratusan tahun, pengunjung hanya diperbolehkan melihat dari luar. Salah satu benda yang paling unik di Istana Maimun adalah gramophone yang usianya sudah sangat tua. Tak bisa sembarangan orang bisa memainkan alat pemutar musik khas zaman dulu itu.

Beberapa ruangan Istana Maimun bisa dikunjungi wisatawan, kecuali bagian sayap kiri dan kanan yang kini menjadi tempat tinggal keluarga kesultanan Deli. Sayang, karena keterbatasan dana istana ini menjadi tampak kurang terawat. Kondisi ini tentu memprihatikan, karena justru merusak kemegahan Istana Maimun yang dibangun sangat mahal di zamannya.

 

Sejarah Istana Maimun

Tidak diketahui secara pasti siapa yang mendesain Istana Maimun, tapi banyak yang mengklaim arsitek asal Italia yang menjadi cikal bakal terbentuknya istana ini. Namun catatan lain meyakini TH Van Erp-lah yang mengarsiteki Istana Maimun ini. Ia juga bekerja sebagai Konijnlijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) atau yang dikenal dengan istilah tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Istana Maimun kemudian dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Dimulai pada 26 Agustus 1888, pembangunan Istana Maimun selesai pada 1891. Dengan luas bangunan mencapai 2.772 m2, Istana Maimun memiliki 30 ruangan yang dibagi menjadi dua lantai. Kemudian sejak tahun 1964, Istana Maimun ditempati ahli waris Kesultanan Deli secara turun menurun. Keluarga kesultanan biasanya menggelar pertunjukkan tradisional Melayu dalam rangka memeriahkan sebuah pesta, seperti pesta perkawinan.

Selain terkenal dengan kemegahannya, Istana Maimun juga memiliki meriam buntung yang memiliki legenda mistis. Kisah meriam buntung ini sering dikaitkan dengan Putri Hijau yang berasal dari Kerajaan Timur Raya. Konon, Raja Aceh sempat ingin meminang Putri Hijau yang cantik jelita, tapi tawaran tersebut ditolak oleh kedua saudaranya, Mambang Yasid dan Mambang Khayali.

Tak terima dengan penolakan tersebut, Raja Aceh murka dan menyerang Kerajaan Timur Raya. Dalam pertempuran sengit Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid, namun saudaranya yang lain, Mambang Khayali tiba-tiba berubah wujud menjadi meriam dan menembaki musuh tanpa henti. Meriam ini kemudian terpecah menjadi dua, dengan bagian depan ditemukan di dataran tinggi Karo, sementara yang lainnya berada di Labuhan Deli yang kemudian dipindah ke Istana Maimun.

Nah, menarik sekali ya sejarah Istana Maimun ini. Yuk jadwalkan kunjunganmu ke sana untuk menyaksikan langsung pesona Istana Maimun yang menjadi bukti kejayaan Kerajaan Deli di masa lampau. Jangan lupa untuk memesan tiket pesawat ke Medan dan booking hotelnya di pegipegi ya!

 

(Visited 778 times, 1 visits today)

Comments

To Top