Destinasi

Gunung Tangkuban Perahu dan Legenda Sangkuriang

Tangkuban-Perahu

Tidak hanya wisata belanja dan kuliner, traveler juga bisa menikmati keindahan Gunung Tangkuban Perahu saat plesiran ke Bandung. Memang, Kota Kembang termasuk salah satu destinasi wisata paling komplet di Indonesia.

Gunung Tangkuban Perahu termasuk salah satu objek wisata favorit para turis yang menyambangi Kota Kembang. Suasana sejuk serta panorama pemandangan yang menyegarkan mata membuat gunung api yang masih aktif ini tak pernah sepi peminat, khususnya di musim liburan.

Tangkuban-Perahu

foto : indonesiaexplorer.net

Keunggulan wisata Gunung Tangkuban Perahu tidak hanya pemandangan yang memukau dengan hamparan kebun teh serta rindangnya pohon pinus, tapi juga keberadaan tiga kawah cantik yang sukses menyedot atensi para wisatawan.

 

Kawah Ratu

Atau yang disebut juga kawah Tangkuban Perahu karena posisinya berada di puncak dan merupakan yang terbesar. Meski lokasinya di puncak, pelancong tak perlu khawatir kelelahan, karena jalan utama menuju kawah ini akan berakhir tepat di bibir kawah. Nah, dari bibir kawah inilah wisatawan bisa menyaksikan keindahan Kawah Ratu.

 

Kawah Domas

Lokasinya berada di bawah Kawah Ratu dan ini termasuk salah satu favorit para pelancong. Maklum, di Kawah Domas pengunjung bisa benar-benar merasakan suasana kawah bahkan menyempatkan diri memasak telur dengan memanfaatkan panas bumi.

Tak hanya itu, kamu juga bisa menikmati sensasi berendam di lumpur belerang di Kawah Domas.

Namun untuk mencapai kawah ini setiap pengunjung wajib didampingi tour guide dengan harga sekitar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 sekali jalan.

 

Kawah Upas

Lokasi Kawah Upas cukup berbahaya dan butuh perjuangan keras sehingga jarang pengunjung yang berani mengunjungi kawah yang bersebelahan dengan Kawah Ratu ini, kecuali didampingi pemandu.

 

Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Mendengar tangkuban perahu, pastinya nggak terlepas dari sosok Sangkuriang, dong. Dahulu kala, di sebuah kerajaan, terdapat seorang putri raja bernama Dayang Sumbi yang memiliki seorang anak bernama Sangkuriang. Sangkuriang kecil senang berburu dengan di temani seekor anjing kesayangan kerajaan bernama Tumang  yang sebenarnya merupakan titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari, Tumang tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang sehingga Sangkuriang mengusir Tumang ke dalam hutan. Setibanya di kerajaan, Sangkuriang menceritakan kisahnya tersebut kepada ibunya dan betapa terkejutnya Sangkuriang ternyata Dayang Sumbi marah besar hingga memukul Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya hingga berdarah. Merasa sakit hati, Sangkuriang memilih untuk pergi meninggalkan kerajaan dan memutuskan untuk mengembara.

Setelah bertahun-tahun, Sangkuriang kembali ke kerajaan yang sudah sangat berubah dan bertemu gadis muda yang sangat jelita. Terpikat dengan kecantikan gadis tersebut, Sangkuriang pun melamarnya. Suatu hari saat gadis tersebut sedang mengikatkan ikatan kepala Sangkuriang, ia melihat bekas luka yang mengingatkannya akan sesuatu di masa lalu. Ternyata gadis tersebut adalah Dayang Sumbi yang tidak lain adalah ibunda dari Sangkuriang.  Dayang Seumbi tak bertambah tua karena ia dianugerahi karunia awet muda oleh para dewa berkat ketaatannya.

Setelah menyadari hal tersebut, Dayang Sumbi terkejut dan berusaha menggagalkan Sangkuriang saat meminangnya dengan mengajukan dua syarat. Pertama, Dayang Sumbi meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Kedua, ia meminta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Dengan kesaktiannya , Sangkuriang segera mengerjakan hal tersebut dengan mengerahkan seluruh makhluk gaib untuk membantunya. Melihat pekerjaan sangkuriang yang hampir selesai, Dayang Sumbi segera menyuruh anggota kerajaan untuk menggelar kain merah di sisi timur kota sehingga Sangkuriang mengira bahwa matahari sudah terbit.

Sangkuriang marah dan menjebol bendungan yang dibuatnya sehingga banjir besar pun melanda seluruh kota. Ia kemudian menendang sampan besar yang sebelumnya ia buat dan nyaris selesai itu sehingga melayang dan jatuh tertelungkup hingga kemudian menjadi sebuah gunung yang bernama “Tangkuban Perahu”.

Akses menuju Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu sebenarnya tak terlalu sulit dijangkau, karena lokasinya pun tidak jauh dari pusat kota. Gunung yang populer dengan legenda Sangkuriang terletak di Sukajaya, Lembang, Bandung Barat atau sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung. Posisinya berbatasan langsung dengan Ciater Subang sehingga mudah dijangkau para traveler.

Terdapat beberapa alternatif bagi wisatawan yang berminat menikmati kesejukan udara di Gunung Tangkuban Perahu. Jika menggunakan kendaraan pribadi dan berangkat dari Jakarta, saat keluar pintu tol Pasteur maka traveler melanjutkan perjalanan ke Dr. Djunjunan kemudian Pasirkaliki dan Jalan Sukajadi. Setelahnya, kamu harus menyusuri Jalan Setiabudi dan mengarah ke Lembang hingga akhirnya tiba di Jalan Raya Tangkuban Perahu.

Tidak sulit menemukan objek wisata yang satu ini, karena petunjuk jalan sudah sangat jelas. Sementara bagi yang naik kendaraan umum dari Bandung, kamu bisa memulainya dari terminal Leuwi Panjang dan naik bus jurusan Indramayu kemudian turun di pertigaan gerbang Gunung Tangkuban Perahu.

atau ada juga opsi lain di mana pelancong memulai perjalanan dari Stasiun Hall dan menaiki angkot jurusan Lembang. Sesampainya di Lembang, menyambung angkutan umum menuju Cikole hingga tiba di kawasan Gunung Tangkuban Perahu.

Sayangnya, meski termasuk wisata populer tak terdapat fasilitas penginapan seperti hotel di dekat Gunung Tangkuban Perahu. Namun wisatawan yang ingin menginap bisa memilih hotel di daerah Lembang yang tidak jauh dari gunung dengan ketinggian 2.084 meter ini.

 Oya, sebelum berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu siapkan baju hangat atau shawl karena cuaca di sini lumayan dingin, bisa mencapai 17 derajat di siang hari dan 2 derajat di malam hari. Jangan lupa juga membawa bekal makanan kalau kamu ingin tetap berhemat saat wisata. Sudah menjadi rahasia umum, harga makanan di tempat wisata bisa lebih mahal dari biasanya.

(Visited 253 times, 1 visits today)

Comments

To Top