Destinasi

Eksotisme seni tato Dayak

Ngomongin soal kekayaan budaya, Indonesia memang nggak ada habisnya. Selain memiliki keindahan alam, kuliner, dan pakaian adat yang khas, seni merajah tubuh alias tato di Indonesia juga mencuri perhatian. Nggak hanya tato asal Mentawai, tapi tato buatan suku Dayak, Kalimantan juga bermotif unik dan menyimpan cerita menarik yang sayang untuk dilewatkan.

Jika beberapa orang memutuskan membuat tato untuk berekspresi, suku Dayak punya alasan lain merajah tubuhnya. Mulai dari menunjukkan status sosial, wujud penghormatan pada leluhur, bahkan untuk menangkal penyakit dan roh jahat. Makanya suku Dayak pun nggak sembarangan memilih motif tato, tuh. Yuk, cari tau lebih dalam soal tato khas Dayak bersama PegiPegi!

Tato jadi saksi hidup
Bagi suku Dayak, pembuatan tato dilakukan mulai dari saat kelahiran, perkawinan, bahkan pindah rumah. Jika kamu mengenal proses khitan saat anak lelaki memasuki akil balig, maka di Dayak dilakukan penatoan yang dilakukan sipatiti (sebutan untuk seniman tato) dengan imbalan seekor babi. Beda lagi dengan lelaki yang pernah ikut perang dan berhasil membunuh musuh, maka akan mendapat tambahan tato baru yang menjadi kebanggaan.
Sementara untuk anak gadis yang sudah mengalami haid pertamanya akan digelar upacara di sebuah rumah khusus untuk ditato. Selama proses penatoan, semua laki-laki yang ada di dalam rumah tersebut tidak boleh keluar dan seluruh anggota keluarga wajib menjalani pantangan. Jika hal-hal tersebut dilanggar, konon keselamatan anak gadis tersebut bisa terancam.
Nah, walau masyarakat Dayak nggak mengenal kasta, status sosial ditunjukan dari tatonya. Anggapannya, semakin banyak tato maka semakin kaya. Sementara orang Dayak yang tak bertato, derajatnya dianggap lebih rendah. Secara religi, masyarakat juga menganggap tato layaknya obor. Diharapkan semakin banyak ‘obor’, maka jalannya semakin terang saat menuju alam keabadian alias kematian.

arthemize.deviantart.com dan bnybiru.blogspot.com

arthemize.deviantart.com dan bnybiru.blogspot.com

Bahan dan cara tradisional

Untuk peralatan yang dipakai saat membuat tato, sebetulnya nggak banyak berubah, hanya jarumnya saja yang berganti mengikuti jaman. Jika pada jaman dulu duri pohon jeruk yang tajam dipakai untuk melubangi kulit, sekarang suku Dayak sudah mengenal jarum. Sedangkan untuk tintanya, masih memakai jelaga atau abu dari pembakaran yang berwarna hitam pekat.
Proses tatonya pun sederhana. Mata jarum diarahkan ke kulit yang akan ditato, ujung atas jarum diketuk perlahan dengan kayu ulin sampai mengeluarkan darah. Lalu luka yang timbul akibat tusukan jarum dioleskan salep racikan khusus dari damar, dan kadang dicampur bubuku emas atau tembaga.
Berbeda dengan tato permanen yang dibuat secara modern, luka pada tato Dayak sembuh lebih lama, sekitar satu bulan. Nah, untuk membuat tato penuh sebadan seperti orang-orang suku Dayak pada umumnya, dibutuhkan waktu sekitar dua tahun dengan pertimbangan rasa sakit yang timbul.

www.getborneo.com dan beautifully-indonesia.blogspot.com

www.getborneo.com dan beautifully-indonesia.blogspot.com

Beda motif, beda sejarah
Seperti pepatah ‘a picture is worth a thousand words’, begitupun motif tato Dayak yang memiliki arti tersendiri buat pemakainya. Umumnya, motif yang dipilih berupa tanaman atau binatang dengan gradasi warna gelap dan terang yang berbeda-beda pada masing-masing suku. Memang, sih, orang awam sulit membedakannya. Tapi di mata orang Dayak asli, semua terlihat berbeda, tuh.
Untuk menggambarkan seorang lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga, maka dibuat tato bermotif bunga terong di punggungnya. Sedangkan untuk kaum bangsawan pada umumnya memiliki tato bermotif burung enggang. Alasannya, jenis burung ini hanya ada di Kalimantan dan dianggap keramat.
Uniknya, jika traveling biasanya bawa pulang oleh-oleh, suku Dayak justru bawa pulang ‘suvenir’ berupa tato khas dari masing-masing daerah. Makanya, jika melihat orang Dayak yang tubuhnya dipenuhi tato, berarti dia sering mengunjungi kampung-kampung tetangga. Beda lagi dengan seseorang yang memiliki tato di bagian tulang kering kakinya menandakan kesenangannya pada petualangan.

www.getborneo.com

www.getborneo.com

Lizard Man penggemar tato Dayak

Nggak hanya musisi dan rocker dunia yang ngefans dengan tato asli Indonesia, performer bernama Erik Sprague juga mengagumi tato Dayak. Lebih ngetop dengan nama Lizard Man, cowok yang secara total ‘menyulap’ dirinya menjadi reptil ini mengaku sudah ditato sejak tahun 1994 dengan waktu pengerjaan sekitar 650-700 jam yang tersebar di seluruh tubuhnya.
Saat datang ke Indonesia pada bulan Agustus lalu, cowok yang ‘hobi’ melakukan aksi berbahaya ini ini pun sempat menuturkan kekagumannya saat bertemu suku Dayak. Saat melihat tato khas Dayak secara langsung, Erik mengaku merasa terhormat dan menghargai tradisi tersebut.
Sementara Anthony Kiedis, vokalis band rock Red Hot Chili Peppers justru ‘lebih niat’ memuaskan kecintaannya pada tato khas Dayak dengan datang langsung ke pedalaman Kalimantan di awal tahun 90’an. Nggak main-main, dia minta dibuatkan tato motif tribal khas Dayak dengan teknik tradisional. Ouch!

badtattooidea.com

badtattooidea.com

(Visited 3,290 times, 2 visits today)

Comments

To Top