Destinasi

Desa Todo, Saksi Sejarah Kekuasaan Kerajaan Manggarai di Flores

“Selamat datang di Desa Todo, pusat kebudayaan kerajaan Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Jangan malu-malu untuk eksplor sendiri keunikan dari desa ini” ucap bapak Titus menyambut Pegipegi.

Di bawah terik matahari yang menyengat, bapak Titus tanpa lelah menjelaskan seluk beluk desa wisata yang satu ii. Maklum, sebagai petugas sekaligus masyarakat asli, beliau sangat mengenal dalam Desa Todo dan ingin tanah lahirnya dikenal lebih luas, baik dalam maupun luar negeri.

Berada di kaki Gunung Anak Ranaka, Desa Todo adalah pusat Pemerintahan Kerajaan Manggarai. Manggarai sendiri merupakan kerajaan terbesar yang menguasai Pulau Flores sebelum akhirnya harus pindah ke kota Ruteng karena invasi Belanda.

Ahli sejarah baik dalam maupun luar negeri bolak balik datang ke Desa Todo untuk meneliti lebih dalam tentang seberapa besar Kerajaan Manggarai kala masih berkuasa. Todo, yang saat itu menjadi salah satu dari tiga komunitas masyarakat terbesar di Flores, selain Bima dan Gowa, punya andil besar dalam pembentukan kesatuan Kerajaan Manggarai di sini.

Salah satu bukti kebesaran Raja Todo dan pengaruhnya terhadap Kerajaan Manggarai adalah hadirnya Rumah Niang atau Mbaru Niang. Memiliki bentuk kerucut pada bagian atap, rumah adat khas Todo ini cukup mencuri perhatian dunia, saat dinobatkan sebagai salah satu kandidat peraih Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur tahun 2013 dari UNESCO.

Dengan lima tingkat yang ditompa kayu worok dan bambu, Rumah Niang menyimpan sebuah gendang kulit manusia yang cukup sakral di dalamnya. Gendang inilah yang mampu menceritakan asal usul Kerajaan Manggarai di Desa Todo.

Rebutan Tiga Raja

Sesuai dengan kisah yang utarakan oleh bapak Titus, gendang ini terbuat dari kulit perut seorang wanita cantik yang menjadi rebutan tiga raja, Gowa, Bima dan Todo. Nggak sekedar cantik, wanita ini juga memiliki beberapa keahlian khusus yang membuat tiga raja ini jatuh cinta.

Konflik berkepanjangan antara tiga raja ini pun terjadi dengan banyak korban dari masyarakat berjatuhan. Demi menghentikan pertumpahan darah, Raja Todo mengajukan sebuah kesepakatan kepada dua raja lainnya yang berisi, siapa saja yang dapat menangkap wanita ini dan menikahinya, niscaya akan dinobatkan sebagai raja Manggarai.

Dan benar, dengan segala upaya, Raja Todo pun mengejar dan berhasil menangkap wanita ini di Desa Ndoso. Proses penangkapannya pun cukup menarik, yang mana Raja Todo bersembunyi di desa tersebut, mengintai keberadaan wanita cantik berdasarkan informasi dari orang dalam Desa Ndoso.

Sayangnya, saat sang raja mengungkapkan keinginan untuk menikahi, sang wanita justru menolak. Namun, demi mengakhiri konflik, Raja Todo membunuh wanita tersebut dan membawa kulit perutnya balik ke Desa Todo yang kemudian diubah menjadi sebuah gendang.

Sejak itulah, Raja Todo dinobatkan sebagai raja Manggarai, yang mencakup banyak daerah di Pulau Flores. Sedangkan, Desa Todo menjadi pusat pemerintahan utama dari Kerajaan Manggarai yang berkuasa di era 1700-an.

Empat Jam Jalan Darat

Meski termasuk desa wisata andalan di Manggarai Barat, Desa Todo memiliki akses masuk yang cukup menantang. Untuk datang ke desa ini, kamu harus berkendara selama empat jam dari kota Labuan Bajo.

Jalan Lintas Flores menjadi salah satu akses yang bisa kamu lalui untuk sampai di Desa Todo. Dengan medan yang berliku hingga keberadaan tanjakan ekstrem, kondisi kendaraan dan fisik kamu harus prima.

Namun, tenang! Rasa lelah kamu bakal dibayar lunas saat sampai di Desa Todo. Disambut dengan keramahan warga Desa Todo, nikmati panorama hijau dan asri dari balik rumah-rumah Niang di sini.

Pengin main ke Desa Todo? Yuk, pesan tiket pesawat dan cari hotel murah di Labuan Bajo lewat Pegipegi!

pesan tiket pesawat murah ke Labuan Bajo  cari hotel murah di Labuan Bajo

Foto: Shutterstock

Agar transaksi lebih mudah dan murah, yuk, instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store!

google-play

apps-store

Comments

To Top