Destinasi

Merasakan kentalnya adat Bali di Desa Adat Penglipuran

Screenshot 2015-06-09 08.42.46

Di tengah era modern, Bali masih mempertahankan budaya dan adat yang tertuang di Desa Penglipuran. Nuansa kebersamaan sangat kental jika traveler berkunjung ke desa yang ditunjuk sebagai contoh pertama desa wisata sejak 1995 silam. Sebelumnya, Desa Adat Penglipuran ini hanya ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. Namun sejak menjadi lokasi syuting salah satu FTV di Indonesia, kunjungan ke desa ini makin meningkat, tak hanya oleh turus asing tapi juga lokal.

Desa Adat Penglipuran

Lokasi Desa Adat Penglipuran

Bagi traveler yang bosan dengan wisata pantai setiap kali datang ke Pulau Dewata, sowan ke Desa Adat Penglipuran bisa menyingkirkan rasa jenuh. Desa adat ini berada di Kubu, Kabupaten Bangli. Mungkin banyak diantara pelancong yang tak tahu posisi persis Kabupaten Bangli ini. Tapi jika kamu pernah berkunjung ke Kintamani atau Gunung Batur, di sinilah wilayah Kabupaten Bangli.

Untuk memasuki Desa Penglipuran ini, pengunjung dipungut biaya Rp 7.500 untuk wisatawan lokal, sementara buat turis mancanegara lebih mahal Rp 2.500 dari turis domestik. Biaya parkir per kendaraan hanya dipatok Rp 5.000 saja. Murah bukan?

Merasakan kentalnya nuansa Bali di Desa Adat Penglipuran

Traveler tidak diperbolehkan membawa kendaraan, baik motor maupun mobil masuk ke desa ini. Untuk itu, disediakan areal parkir yang sangat luas sebelum memasuki gerbang Desa Adat Penglipuran. Suasana sejuk dan asri langsung terasa saat menginjakkan kaki di sini. Maklum, Desa Adat Penglipuran terletak di ketinggian 600-700 meter dari permukaan laut.

Pasti banyak yang bingung kegiatan apa yang bisa dilakukan di sini. Buat pelancong yang ingin merasakan suasana Bali yang sebenarnya, kedatangan kamu ke Desa Adat Penglipuran sudah sangat tepat.

Yup, desa yang menurut sejarah telah berdiri sejak abad sembilan ini bakal membuat kagum para pelancong dengan bentuk rumah yang sama persis bagi setiap penduduknya. Kamu bisa dengan jelas melihat kemiripan tiap-tiap rumah mulai dari pintu gerbang, atap, dinding yang menggunakan bambu hingga angkul-angkul. Angkul-angkul adalah jenis pintu khas Bali yang hanya cukup untuk satu orang dewasa. Tak cuma bentuk bangunan dari luar, pembagian ruangan di dalam rumah pun sama persis.

Saat ini, desa seluas 112 hektar ini memuat 76 kavling, dan salah satu diantaranya diprediksi sudah berusia 270 tahun! Namun tidak semua lahan di desa digunakan untuk perumahan, kurang lebih 40% dimanfaatkan sebagai lahan bambu.

Meski kelihatannya luas, pelancong tidak akan terlalu lelah mengitari desat adat ini. Berjalan kaki dengan suasana sejuk sambil menikmati keindahan Desa Adat Penglipuran bakal memberikan sensasi berbeda saat kamu plesiran ke Pulau Seribu Pura.

Para pelancong tak hanya dibuat kagum oleh penataan desa yang apik, tapi kebersihan yang sangat terjaga. Meski banyak pepohonan di kawasan ini, kamu tidak akan menemukan sampah sepanjang mengelilingi desa. Di setiap sudut desa disediakan tempat sampah, supaya semua pengunjung bisa ikut sama-sama menjaga kebersihannya.

Kalau kamu berniat mengeksplorasi keindahan Desa Adat Penglipuran, sebaiknya datang menjelang Hari Raya Galungan yang diperingati setiap enam bulan sekali. Di hari raya ini, desa makin cantik berkat kehadiran penjor di tiap-tiap rumah. Juga sejumlah gadis dengan pakaian adat yang membawa banten menuju pura membuat adat Bali makin kental terasa.

Oya, kamu juga tak boleh melupakan minuman tradisional yang sudah populer dari desa ini, loloh cemceman. Rasanya kombinasi asam pedas namun menyegarkan dan berwarna hijau karena terbuat dari daun cemceman. Meminum loloh cemceman dingin setelah lelah berkeliling desa akan mengembalikan stamina dan kesegaran kamu.

 

(Visited 3,937 times, 1 visits today)

Comments

To Top