Event & Festival

Cerita yang tersisa dari Jember Fashion Carnival 2014

jember fashion carnival

jember fashion carnival

Siapa di antara kamu yang hadir di perhelatan Jember Fashion Carnival 2014 bulan lalu, travelers? Wah, pasti asyik ya menonton parade baju-baju unik membahana sambil berbaur bersama ribuan orang lainnya. Tapi kalo nggak sempat ke acara yang digelar pada 21-28 Agustus ini jangan kecewa ya. Karena pada ulasan kali ini Pegipegi akan menceritakan kemeriahan Jember Fashion Carnival 2014, spesial buat kamu!

Jember Fashion Carnival (JFC) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut sengan Karnaval Busana Jember merupakan sebuah event yang pertama kali diusulkan oleh Dynand Fariz, terinspirasi dari arak-arakan kelompok kesenian khas Jawa Timur, Reog Ponorogo, di karnaval budaya HUT RI di Jember. Arak-arakan itu selalu menyedot perhatian masyarakat setiap tahunnya. Mereka datang berduyun-duyun dari berbagai pelosok Kota Jember, memadati jalan-jalan demi menonton arak-arakan Reog Ponorogo.

Trus tahun 2001 diadakanlah parade yang menyajikan peragaan busana unik, gemerlap dan penuh cita rasa estetis yang tinggi. Semua busana diperagakan di atas catwalk sepanjang 3,6 kilometer yang merupakan jalan utama Kota Jember. Para penonton akan dipuaskan oleh atraksi fashion run way dan dance dari ratusan peserta karnaval. Tapi mereka juga nggak asal-asalan merancang dan memakai segala busana yang aduhai itu, travelers. Karnaval terbagi atas 8 defile yang masing-masing punya tema berbeda. Biasanya sih tema yang diusung nggak jauh-jauh dari busana nasional, bisa juga tentang kejadian, kelompok tertentu, film atau tren apa aja yang sedang happening saat itu.

Nah, untuk JFC 2014 tema utamanya adalah ‘Triangle – Dynamic In Harmony’, diramaikan 10 defile yang bertema Wild Deer, Flying Kite, Pine Forest, Chemistry, Apache dan Stalagmite. Lalu ada juga defile lain yang terinspirasi film Mahabharata, peristiwa meletusnya Gunung Tambora dan ada juga defile Borobudur. Defile Borobudur dimunculkan setelah masyarakat digemparkan oleh ancaman kelompok teroris ISIS yang mau meledakkan candi Budha terbesar di dunia ini, dan beberapa kalangan mengangkat tema Borobudur sebagai sebuah pernyataan cinta, rasa bangga sekaligus penegasan bahwa Borobudur adalah milik bangsa Indonesia dan semua warga siap melindungi dan menjaganya.

Parade JFC yang digelar setiap tahun terbukti ampuh menaikkan pamor Kota Jember secara lokal maupun internasional. Beberapa agen wisata mancanegara bahkan sudah memasukkan JFC dalam agenda paket wisata ke Indonesia dan sejumlah turis asing rela menyisihkan waktu demi menghadiri event tahunan ini. JFC bukan hanya berhasil menambah pendapatan daerah, namun pengusaha hotel, rumah makan, usaha rental mobil, bahkan pedagang kaki lima mengaku meraup keuntungan berlipat di ajang JFC. Semua kamar hotel di Jember dipastikan full beberapa saat menjelang JFC. Demikian juga tiket penerbangan Surabaya-Jember sudah habis dipesan pada satu bulan sebelumnya.

Melihat animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap JFC, mau nggak mau penyelenggara pun musti melakukan inovasi buat mempertahankan orisinalitas dan menarik perhatian lebih banyak orang untuk menghadirinya melalui ide-ide segar yang digulirkan setiap tahun. Untuk tahun ini inovasi dilakukan dengan memasukkan ajang Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) dalam agenda JFC.

Momen ini sekaligus merupakan peresmian WACI yang rencananya akan digelar setiap tahun, dan Jember melalui JFC sengaja dipilih sebagai host WACI karena dianggap sebagai kota pertama yang mampu mengadakan event karnaval berskala besar. Tahun ini WACI diikuti oleh tujuh propinsi di Indonesia, yaitu Jawa Timur, Bali, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta. Selain menampilkan parade busana daerah di catwalk JFC, ketujuh propinsi juga menampilkan hasil kreasi masing-masing daerah dalam bentuk hasil kerajinan dan kuliner di stand-stand yang berbaris rapi di alun-alun Kota Jember.

Satu lagi yang menarik dari JFC 2014 adalah diadakannya Festival Egrang. Festival Egrang tahun ini telah memasuki tahun ke-5 sejak pertama kali diadakan tahun 2009 atas prakarsa Komunitas Tanoker. Buat kamu yang belum tau apa itu egrang (wah kasihan sekali), ini adalah semacam alat yang dipakai supaya orang bisa berdiri sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah. Egrang dilengkapi tangga supaya orang yang menggunakannya bisa berdiri di atasnya dan ada pula tali pengikat supaya si pemakai nggak mudah terlempar dari egrangnya. Egrang sebenarnya berasal dari Cina, travelers, dan kemungkinan besar masuk ke Indonesia sejak ratusan tahun silam saat para pedagang Negeri Tirai Bambu mulai berdatangan.

Para peserta Festival Egrang akan mendemonstrasikan keahlian mereka berjalan menggunakan egrang sambil memakai aneka kostum yang tak kalah menarik dengan yang dipakai para model di catwalk JFC. Dan serunya lagi, mereka nggak sekedar berjalan dengan egrang, tapi juga menari dan bahkan ada juga yang memperagakan keahlian bela diri. Sejumlah juri dari dalam dan luar negeri sengaja didatangkan untuk menilai atraksi egrang mana yang paling keren.

Nyesel karena nggak datang ke JFC tahun ini? Jangan kelamaan galau, travelers. Segera buat rencana untuk datang dan menonton JFC tahun depan. Kamu bisa mulai cari-cari hotel di Jember via Pegipegi sekarang supaya tidak kehabisan.

(Visited 299 times, 1 visits today)

Comments

To Top