Destinasi

Uji kesetiaan pasangan di Candi Sukuh, Karanganyar

Candi Sukuh

Candi Sukuh Karanganyar menjadi salah satu candi unik dengan predikat cukup mencolok dan nggak biasa. Candi Sukuh sendiri merupakan komplek candi agama Hindu dengan ciri khas adanya ornamen lingga dan yoni sehingga dianggap tidak lazim. Karena itulah kenapa banyak pengunjung yang tertarik untuk datang dan melihat sendiri keunikan yang dimiliki. Kamu juga penasaran? Yuk ikuti ulasan lengkap Candi Sukuh dari Pegipegi.

Candi Sukuh

foto: wikipedia

Lokasi dan cara menuju Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah dan berjarak sekitar 20 km dari Karanganyar, atau dari Surakarta dapat ditempuh dalam jarak 36 km. Letaknya yang ada di lereng bagian barat Gunung Lawu Karanganyar, yaitu sekitar 910 meter dpal menjadikan warna hijau segar mendominasi kawasan ini.

Kalau memulai perjalanan dari Solo, travelers bisa naik alat transportasi umum dengan jalur : naik bus jurusan Tawangmangu – turun di Terminal Pandan – naik angkutan atau bus ke Pertigaan Nglorog – naik ojek hingga ke Candi Sukuh. Karena aksesnya menanjak dan cukup terjal kamu bisa minta tukang ojek untuk menunggu atau janjian jam berapa akan menjemput. Beda kalau kamu naik motor atau mobil karena kamu bisa pulang kapan saja setelah puas mengeksplorasi Candi Sukuh. Dan hanya dengan membayar tiket masuk Rp3.000* per orang, kamu bisa mengintip keunikan Candi Sukuh.

 

Sejarah penemuan Candi Sukuh

Menurut sejarah, Candi Sukuh diperkirakan dibangun akhir abad ke-15 M. Sejak ditemukan oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815, Candi Sukuh terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis. Penelitian lanjutan terus dilakukan pada tahun 1889 oleh Verbeek dengan cara inventarisasi, lalu diteruskan oleh WF. Stutterheim dan Knebel di tahun 1910. Hasil laporan yang dilakukan ini kemudian dibukukan dalam Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto.

Candi Sukuh punya bentuk yang berbeda dengan candi-candi lain, seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Bentuknya justru lebih mirip dengan situs budaya Maya yang ada di Meksiko atau bahkan situs budaya bangsa Inca di Peru. Bentuk yang terlihat dari kejauhan mirip seperti trapesium dengan 3 teras bertingkat yang dikawal oleh satu anak tangga pada bagian tengah. Perbedaan yang mencolok lain adalah arah Candi Sukuh yang tidak menghadap ke matahari terbit, namun justru mengarah ke barat.

Diperkiraan penyimpangan Candi Sukuh yang tidak lazim ini disebabkan karena kala itu pengaruh agama Hindu di Jawa mulai memudar sehingga pendiri dan pemimpin saat itu kembali menghidupkan unsur pra-Hindu dan budaya setempat yang identik dengan jaman Megalitikum, yaitu bentuk bangunan candi dengan teras/punden berundak-undak.

Para peneliti juga menduga kalau Candi Sukuh dijadikan tempat untuk menangkal kekuatan buruk yang melekat pada diri dan kehidupan seseorang. Tempat pengruwatan ini didasarkan pada munculnya beberapa relief yang menggamarkan proses dan cerita ruwatan seperti kemunculan garuda, arca kura-kura serta Sudamala dan Garudheya

 

Struktur Bangunan dan Relief Candi Sukuh

Komplek candi seluas 5.500 m2 ini dikelilingi oleh atmosfer kehijauan khas dataran tinggi. Biarpun struktur bangunannya lebih sederhana namun tidak menyurutkan wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang ke Candi Sukuh. Apalagi predikat sebagai candi yang vulgar cukup melekat kuat padanya. Tapi jangan hanya itu saja yang dilihat, karena kamu juga bisa mengintip struktur dan reliefnya. Sebenarnya, Candi Sukuh juga punya beberapa teras yang akan mengantarkan travelers hingga sampai pada teras tertinggi.

Teras ke-1

Teras pertama Candi Sukuh dikenali dengan gapura utama dan di sini travelers akan menjumpai ‘Sengkala Memet’ yang diartikan sebagai raksasa manusia pemangsa manusia. Kalau ditelisik lagi, disebelahnya juga terdapat Sengkala Memet dengan wujud gajah yang mengenakan sorban sambil menggigit ekor ular yang kemudian diartikan sebagai raksasa gapura yang sedang menggigit ekor.

Saat melewati lorong gapura, travelers akan disuguhi pemandangan tidak biasa, yaitu adanya satu ruang dalam gapura yang terdapat pahatan alat kelamin pria (yoni) dan wanita (lingga) terlihat sedang bersenggama. Penggambaran ini begitu jelas sehingga menjadi ciri khas Candi Sukuh. Karena diberi pagar, travelers yang datang tidak bisa melewatinya. Namun kamu masih bisa mengambil gambar pahatan di atas lantai tersebut.

Teras ke-2

Naik lagi ke atas, travelers mendapati bentuk bangunan gapura yang sudah rusak. Disini hanya ada dwarapala atau patung penjaga pintu dan kondisi tidak sempurna, tanpa atap dan tidak ada relief-relief patung. Hanya ada satu candrasangkala atau ‘gajah wiku anahut buntut’ yang berarti gajah pendeta menggigit ekor.

Teras ke-3

Naik lagi ke teras ke-3, travelers akan menjumpai pelataran yang jauh lebih besar dan dianggap sebagai bagian induk Candi Sukuh yang dihiasi beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung yang mendominasi bagian kanan. Dan sepertinya, penempatan sesaji seperti kemenyan dan dupa terletak tepat di atas candi utama dalam bentuk bujur sangkar.

Pada sisi sebelah kiri terdapat deretan relief yang seolah-olah ingin menggambarkan mitologi Candi Sukuh, yaitu Kidung Sudamala dengan tokoh kehidupan Pandawa Lima beserta keluarganya, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Teras ke-3 juga dianggap punya kedudukan paling tinggi dan suci.

Kebanyakan dari relief yang tergambar di dinding Candi Sukuh menunjukan prosesi ruwatan yang umum dilakukan oleh masyarakat agama Hindu kala itu dan bahkan sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat setempat. Seperti yang terlihat jelas pada teras pertama, travelers yang datang harus benar-benar menyingkirkan pikiran kotor karena tempat ini diduga sebagai tempat untuk ruwatan atau menangkap pengaruh buruk pada diri seseorang serta untuk menyucikan jiwa.

Mengetes Kesetiaan Pasangan di Candi Sukuh

Candi Sukuh yang secara vulgar menggambarkan alat kelamin pria dan wanita yaitu lingga dan yoni sangat menarik wisatawan dari berbagai daerah karena penempatannya yang begitu terbuka. Pada awalnya juga terdapat patung lingga berukuran cukup besar namun ketika ditemukan pertama kali oleh Sir Thomas Raffles, kondisinya sudah terbelah menjadi dua.

Candi Sukuh ini memang diidentikan sebagai lambang kesuburan dan pemujaan kepada arwah leluhur sehingga dianggap sebagai tempat sakral. Biarpun punya kesan sebagai candi porno, namun sebenarnya hal ini mengandung pesan yaitu agar para pengunjung menyucikan hati. Karena itulah kenapa candi ini sering digunakan oleh pasangan yang mau menikah untuk menguju kesetiaan calon istri dan suami. Lalu bagaimana caranya?

Bagi calon istri diminta untuk melangkahi relief persenggamaan. Bila kebaya yang dipakai terlepas, itu artinya calon istri telah berselingkuh atau tidak perawan lagi kalau kain yang dikenakan robek. Sedangkan para lelaki dikenali kalau sudah berselingkuh atau tidak perjaka lagi bila setelah melangkahi relief tersebut terkencing-kencing. Cukup unik ya travelers tes untuk menguji kesetiaan di Candi Sukuh Karanganyar ini.

Banyak orang yang menyebut Candi Sukuh sebagai candi kontroversial. Bentuk dan ornamen yang terpampang pada patung dan reliefnya begitu vulgar karena menampilkan gambar alat kelamin manusia secara utuh sehingga ‘candi porno’ pun melekat padanya. Biarpun begitu, karena kekhasan yang dimiliki inilah yang membuat UNESCO memasukan Candi Sukuh dalam situs warisan dunia sejak 1995.

Nah, buat kamu yang penasaran ingin membuktikan ‘keampuhan’ Candi Sukuh, baiknya kamu rencanakan perjalananmu sekarang juga dengan memesan tiket pesawat ke Solo. Dapatkan juga hotel-hotel murah di Solo agar travelingmu makin hemat.

(Visited 2,928 times, 3 visits today)

Comments

To Top