Destinasi

Sepenggal kisah Arjuna di Candi Jago Malang

Candi Jago

Selain keindahan panorama pegunungan dan pantai Selatannya, Malang juga dikenal berkat situs wisata sejarah. Candi Jago adalah salah satu di antaranya!

Lokasi Candi Jago Malang

Candi Jago nggak sulit didatangi karena berlokasi dekat dengan Jalan Raya Tumpang, Kabupaten Malang. Lokasi persisnya ada di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Dari pusat kota Malang berjarak sekitar 22 kilometer ke arah timur. 

Candi Jago peninggalan Kerajaan Singhasari / Kerajaan Singosari

Candi Jago

foto: meilaniwulandari.it.student.pens.ac.id

Candi Jago diperkirakan dibangun sekitar abad ke-13 oleh Raja Kertanegara sebagai tempat persemayaman abu jenazah ayahandanya, Raja Singhasari keempat yang bernama Wisnuwardhana. Candi Jago dibangun menggunakan batu andesit atau batu kali dengan struktur bertingkat tiga menyerupai punden berundak. Sedangkan punden berundak sendiri konon adalah arsitektur khas peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang hidup di jaman pra sejarah.

Candi dengan lebar 14 meter, panjang 23, 71 meter dan tinggi 9,97 meter ini memang hanya berupa reruntuhan, karena menurut masyarakat setempat bagian atas Candi Jago telah hancur akibat sambaran petir. Menurut kitab Negarakertagama, pembangunan Candi Jago berlangsung pada tahun 1268 hingga 1280 dan dipugar oleh Raja Adityawarman dari Kerajaan Melayu pada tahun 1343.

Berwisata ke Candi Jago memang bukan buat kalian yang hanya ingin senang-senang trus selfi-selfian dengan latar belakang tempat wisata populer. Candi Jago adalah tempat buat mereka yang masih punya kepedulian dan kecintaan terhadap budaya dan sejarah lokal, lantas menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sekelumit cerita relief di Candi Jago

Kearifan lokal tampak jelas dari relief yang dipahatkan di sepanjang dinding Candi Jago, travelers. Misalnya pada dinding bagian barat laut Candi Jago. Bagian ini mengisahkan tentang dua ekor kura-kura yang ingin tau rasanya terbang. Seekor angsa yang baik hati lalu mengajak kedua kura-kura itu terbang. Ia menggigit sebatang kayu dan meminta dua kura-kura tadi untuk menggigitnya juga, lalu terbanglah mereka ke angkasa.

Di tengah jalan, sekelompok serigala membully dua kura-kura itu. Nggak punya sayap kok pengen terbang, ledek para serigala. Kedua kura-kura merasa kesal dan ingin membalas ledekan mereka. Kedua kura-kura itu lupa kalo mereka bicara, otomatis batang kayu akan terlepas dan jatuhlah mereka ke tanah.

Di tanah para serigala menyerbu keduanya dan menyantap mereka. Hikmah yang bisa kalian ambil dari salah satu relief Candi Jago ini adalah jangan mudah terpengaruh omongan orang, meski perkataan mereka menyakitkan.

Kisah Arjuna diabadikan di Candi Jago

Relief Candi Jago

foto: tripadvisor

Cerita dalam relief di tingkat kedua Candi Jago mungkin lebih familiar buatmu, terutama jika kamu penggemar serial Mahabharata yang ditayangkan di stasiun tv swasta. Relief tingkat kedua terdiri dari dua bagian, yaitu Parthayajna dan Arjunawiwaha. Keduanya menceritakan kesialan Pandawa yang kalah di meja judi akibat akal licik Sangkuni. Kerajaan mereka disita dan mereka harus hidup sebagai orang biasa selama 12 tahun di dalam hutan.

Arjuna pergi meninggalkan saudara-saudaranya untuk bertapa, memohon agar Dewa Siwa memberikan senjata ampuh buat mengalahkan para Kurawa. Dewa Siwa memang menganugerahkan senjata sakti yaitu panah Pasopati pada Arjuna. Namun dengan syarat Arjuna harus ikut ke kahyangan dan mengalahkan raksasa Niwatakaca yang saat itu sedang menyerbu istana para dewa.

Konon, Niwatakaca menyerbu kahyangan lantaran niatnya melamar seorang bidadari bernama Dewi Supraba ditolak oleh para dewa. Arjuna akhirnya berhasil membinasakan Niwatakaca dan ia bukan hanya mendapat hadiah panah Pasopati, tapi juga dinikahkan dengan Dewi Supraba. Arjuna lalu teringat akan saudara-saudaranya yang hidup di hutan. Ia berpamitan untuk pulang karena ingin balas dendam pada Kurawa.

Selain relief kisah Mahabharata yang sarat dengan ajaran Hindu, ada juga kisah Kunjarakarna yang menceritakan kisah raksasa Kunjarakarna yang taat beribadah dan beragama Budha dipahatkan dalam relief sisi timur laut Candi Jago. Ini karena Raja Wisnuwardhana beragama Siwa Buddha, sebuah agama yang merupakan perpaduan antara agama Hindu dan Budha.

Cara menuju ke Candi Jago

Kamu bisa mendatangi Candi Jago dengan berkendara ke arah timur dari pusat Kota Malang, cukup dengan mengikuti papan petunjuk yang bertebaran di sepanjang jalan.

Kalo naik kendaraan umum malah lebih mudah dan dijamin nggak bakal nyasar karena tersedia angkutan umum jurusan Malang-Tumpang di Terminal Arjosari Malang. Sebelum mencapai Pasar Tumpang, kamu akan menemukan sebuah belokan ke kiri. Turun di situ dan kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Jago dengan naik ojek. Hampir semua penduduk akan dengan senang hati menunjukkan jalan jika kamu bertanya di sana.

Pengen jalan-jalan ke Candi Jago dan candi-candi bersejarah lainnya di Kota Malang? Ayuk hubungi Pegipegi dulu buat pesan tiket pesawat sekaligus booking hotel nyaman dan terjangkau di Malang dan sekitarnya.

(Visited 2,052 times, 1 visits today)

Comments

To Top