Kuliner

Asal Usul Warteg yang Melegenda di Ibukota Sejak 1950

Warteg atau warung Tegal adalah pilihan kuliner yang merakyat banget. Dengan harga yang terjangkau, kamu bisa dapat menikmati beragam jenis makanan lezat dalam satu piring, lho!

Saking jadi favoritnya, kamu bisa dengan mudahnya menemukan banyak sekali warteg di setiap sudut kota. Mulai dari gang-gang kecil, kantin kantor, hingga pinggir jalan raya, lho.

Penampakan warteg pun sangat familiar. Selain selalu memiliki dua pintu, warteg juga umumnya bernuansa biru. Warna ini sendiri sudah dipakai para pengusaha warteg dari puluhan tahun yang lalu.

Soal variasi, warteg menyediakan beragam lauk tradisional khas pertanian, sebut saja sayur lodeh, orek tempe, hingga tumis kangkung. Ada juga ayam goreng, sambal goreng ati, hingga mie goreng yang pastinya nggak kalah lezat.

Nah, warteg atau warung Tegal sendiri muncul pada 1950-an saat Indonesia memindahkan ibukota negara dari Yogyakarta ke Jakarta. Kala itu, Presiden Soekarno ingin menjadikan Jakarta sebagai kota nasional, melepaskan diri dari istilah kota kolonial.

Sehingga, banyak sekali pembangunan infrastruktur kota yang terjadi saat itu. Mulai dari Monumen Nasional (Monas), Simpang Semanggi, hingga kawasan Thamrin dan ruas jalan protokol. Otomatis, ada banyak tenaga manusia yang digunakan untuk melaksanakan pembangunan selama lima tahun ke depan.

Kesempatan ini yang dimanfaatkan para pedagang dari Tegal, Jawa Tengah untuk menjajakan makanan di ibukota. Mereka pun mulai membangun banyak warung makan di setiap sudut ibukota. Sejak itulah, warung Tegal pun mulai berkembang pesat dan menjamur di mana-mana.

Kesuksesan warteg sendiri nggak terlepas dari keberadaan para pekerja kasar atau kuli bangunan yang banyak datang dari Tegal, Pekalongan hingga Semarang. Yang sudah pasti lidah mereka cocok dengan jenis kuliner yang ditawarkan warung Tegal.

Layaknya rumah makan Padang, para pengusaha warteg juga menerapkan sistem franchise atau cabang usaha. Salah satu yang paling beken dan legendaris adalah Warteg Kharisma Bahari yang sudah punya ratusan cabang warteg di Jakarta.

Nah, nama Bahari sendiri diambil dari julukan kota Tegal. Lantaran letaknya yang berada di bibir Pantai Utara Jawa, kata Bahari tersemat erat selama bertahun-tahun di kota ini.

Sistem kerja di balik pengelolaan sebuah warteg pun bisa dibilang cukup unik. Karena, pengelolaan warteg akan berotasi setiap tiga bulan sekali. Nah, rotasi pengelolaan ini dilakukan dalam lingkup keluarga besar. Sehingga, pendapatan bersihnya nggak lari keluar. Menarik, bukan?

Mau berburu warteg sambil liburan? Bisa banget! Agar liburan kamu terjangkau, yuk, pesan tiket pesawattiket kereta api, dan hotel murah! Yuk, dipesan untuk liburan kamu!

pesan tiket pesawat murah  pesan tiket kereta api murah  cari hotel murah

Agar transaksi kamu lebih murah dan mudah, jangan lupa instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store, ya!

google-play

apps-store

Comments

To Top