Berita

Asal Usul Kebaya dan Konde di Kalangan Perempuan Indonesia

Menyambut Hari Kartini, biasanya identik dengan kebaya dan konde. Karena, Raden Ajeng Kartini sendiri pun menggunakan kebaya dan konde di kesehariannya. Sebenarnya, seperti apa sih asal usul kebaya dan konde di kalangan perempuan Indonesia?

Kebaya sudah ada sejak abad ke-15

Sebenarnya kebaya tidak murni berasal dari Indonesia. Kebaya nggak bisa dipisahkan dari negara Arab, Tiongkok, dan Portugis. Pakaian ini berasal dari Bahasa Arab, ‘kaba’ yang berarti pakaian. Sedangkan istilah ‘abaya’ juga masih digunakan untuk pakaian tunik panjang khas Arab. Kebaya sudah ada sejak abad ke-15 Masehi, di mana saat itu kebaya menjadi busana khas perempuan Indonesia, khususnya perempuan Jawa. Kebaya terdiri atas baju atasan yang dipadu dengan kain.

Ketika pertengahan abad ke-18, terdapat dua jenis kebaya yang dipakai oleh perempuan Indonesia, yaitu kebaya encim, kebaya yang dikenakan perempuan Tiongkok peranakan di Indonesia dan kebaya putu baru, yaitu kebaya bergaya tunik pendek warna-warni dengan motif cantik. Memasuki abad ke-19, kebaya dikenakan oleh semua kelas sosial setiap harinya, baik perempuan Jawa atau pun perempuan peranakan Belanda. Bahkan, kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia. Pada tahun 1940-an, kebaya dijadikan Presiden Soekarno sebagai kostum nasional, karena dianggap sebagai lambang emansipasi perempuan Indonesia. Apalagi, Raden Ajeng Kartini juga kerap memakai kebaya.

Konde berasal dari Mesir Kuno

Anggunnya perempuan Indonesia juga identik dengan konde atau sanggul. Konde bisa dibentuk melalui rambut asli atau rambut tambahan yang ditempel. Jika menggunakan kebaya, biasanya rambut akan disanggul. Kartini pun rambutnya berkonde. Ternyata, budaya mengonde rambut bukanlah berasal dari Indonesia. Namun, dikenal sejak zaman Mesir Kuno.

Ketika itu, perempuan Mesir Kuno memiliki kebiasaan mencukur bersih rambut di kepalanya demi acara keagamaan, juga demi kebersihan. Mereka biasanya mengenakan rambut palsu (sanggul) pada acara-acara tertentu. Sanggul tidak hanya terbuat dari rambut manusia, tapi bisa terbuat dari bulu hewan atau serat daun palma.

Pada umumnya, sanggul dikombinasi dengan emas atau permata untuk menunjukkan status sosial pada bangsawan. Ukuran serta tinggi sanggul juga berpengaruh terhadap status sosial seseorang. Makin besar ukuran sanggul, makin mahal harganya dan makin tinggi sanggul, makin tinggi status sosialnya. Makin lama, sanggul tidak hanya digunakan orang Mesir Kuno. Bahkan Raja Prancis Louis XIII dan putranya juga menggunakannya. Sanggul pun makin populer dan dikenal seluruh dunia.

Menyambut Hari Kartini, apa rencana kamu travelers? Bagi yang ingin merencanakan liburan di Indonesia, yuk, pesan tiket pesawattiket kereta api, dan hotel murah di Pegipegi!

pesan tiket pesawat murah  pesan tiket kereta api murah  cari hotel murah

Foto utama: Shutterstock

Agar transaksi kamu lebih murah dan mudah, jangan lupa instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store, ya!

google-play

apps-store

 

 

 

Comments

To Top