Destinasi

7 Kisah Menarik Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung

Kawasan Lembang, Bandung dikelilingi berbagai obyek wisata yang menarik hati. Salah satu yang paling favorit adalah Observatorium Bosscha

Yap, Observatorium Bosscha dikenal luas sebagai pusat observasi luar angkasa tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha makin dikenal usai menjadi salah satu latar tempat film drama musikal, Petualangan Sherina.

Well, jika kamu menyebut Observatorium Bosscha sebagai museum, salah besar. Lantaran, Teropong Bintang Bosscha masih beroperasi dengan baik sampai sekarang, lho!

Sebelum kamu berkunjung ke Observatorium Bosscha, ada baiknya mengintip sedikit fakta-fakta menarik tentangnya. Siapa tahu bisa menjadi referensi buat kamu yang sangat menggemari eksplorasi luar angkasa.

1. Belanda Untuk Indonesia

Ide pembangunan Observatorium Bosscha pertama kali diinisiasi oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda pada 1923. Butuh lima tahun untuk membangun gedung di tanah seluas enam hektar tersebut. Masa depan Observatorium Bosscha sempat nggak menentu pada masa Perang Dunia Kedua sebelum akhirnya diserahkan untuk dikelola oleh Pemerintah Indonesia pada 1959. Kini, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari Institut Teknik Bandung atau ITB.

2. Nama Sang Donatur

Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. . Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari dataran tinggi Bandung. . 📷 @hakim_ewo Source : Wikipedia . #infobdgcom #infobdg #sejarahBDG #wisataBDG #inimahbdg #ilovebdg #bandung #bdg

A post shared by BANDUNG (@infobdgcom) on

Di awal pembangunan, Perhimpunan Bintang Hindia Belanda membutuhkan dana besar untuk mendirikan Observatorium Bosscha. Sedangkan, Pemerintah Belanda kala itu belum terlalu tertarik untuk menggelar investasi di ranah antariksa terlalu besar. Alhasil, mereka bersusah payah mengumpulkan banyak donatur. Ternyata, momen tersebut yang mendorong seorang tuan tanah di kebun teh Malabar, Karel Albert Rudolf Bosscha bergerak. Ia mencairkan dana pembangunan hingga resmi dibuka pada 1928. Sebagai bentuk apresiasi, namanya pun diabadikan sebagai tajuk utama observatorium ini.

3. Jalur Bencana

Sejak awal berdiri, Observatorium Bosscha berada di jalur rawan bencana. Di bawah Observatorium Bosscha melintang Sesar Lembang yang masih aktif. Tapi tenang, sang arsitektur sudah memikirkan segala kemungkinan yang ada bahkan sebelum membangun Observatorium Bosscha. Dengan dua fondasi yang terpisah, Teropong Bintang Bosscha dirancang untuk bertahan dari guncangan gempa hebat.

4. 5 Buah Teleskop Raksasa

Foto: septarina_hadorie

Observatorium Bosscha adalah salah satu tempat terbaik buat berburu bintang serta fenomena alam luar angkasa terbaik di Indonesia. Nggak heran, soal perlengkapan, Teropong Bintang Bosscha termasuk yang lengkap. Setidaknya, ada sekitar lima buah teleksop raksasa yang masih aktif di Observatorium Bosscha. Antara lain Teleskop Refractor Ganda Zeiss, Schmidt (Bima Sakti), Bamberg Refractor, Unitron Refractor dan Cassegrain GOTO. Unitron Refractor adalah teleskop yang sering digunakan untuk mengamati hilal, gerhana bulan, gerhana matahari hingga bintik matahari.

5. Usaha Pemecahan Rekor Dunia

Observatorium Bosscha nyaris memecahkan rekor dunia pada 2016 lalu. Adalah usaha pengamatan bulan sabit tertipis yang menjadi highlight utamanya. Dilakukan oleh Muhammad Yusuf, Observatorium Bosscha mampu menembus rekor elongasi 3 derajat 44 menit busur. Hanya terpaut 22 menit dari rekor dunianya. Elongasi sendiri adalah sudut yang dibentuk oleh bulan dan matahari yang terus berubah dari waktu ke waktu.

6. Tentang Polusi Cahaya

Usia Observatorium Bosscha nyaris mendekati angka 89 tahun. Semakin tua, Observatorium Bosscha terus menemui banyak masalah, salah satunya soal polusi cahaya. Hutan-hutan kecil dan area pepohonan yang tertutup kini berubah menjadi area bisnis, pemukiman atau vila yang bersifat komersil. Karena banyaknya intensitas polusi cahaya dari kawasan pemukiman, kegiatan peneropongan dan penelitian di Observatorium Bosscha menjadi terganggu. Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia berencana memindahkan Observatorium Bosscha ke Kupang, Nusa Tenggara Timur.

7. Maksimum 200 Orang

Lantaran menjadi pusat penelitian penting, Observatorium Bosscha membatasi jumlah pengunjung setiap harinya, 200 orang. Ini bertujuan agar nggak menganggu proses pengamatan antariksa. Jika kamu ingin main ke sana, Observatorium Bosscha buka untuk umum pada hari Sabtu saja. Sedangkan, untuk Selasa dan Jumat diperuntukkan bagi kunjungan sekolah, organisasi hingga instansi saja. Tiket masuknya cukup terjangkau, Rp 7.500 per orang, lho!

Ada rencana ke Bandung akhir pekan ini? jangan lupa pesan tiket pesawat atau tiket kereta api ke Bandung dan cari hotel murah Bandung lewat Pegipegi, ya! Selamat liburan!

pesan tiket pesawat murah ke bandung pesan tiket kereta api murah ke bandung cari hotel murah lain di bandung

Agar transaksi lebih mudah dan murah, yuk, instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store!

google-play

apps-store

(Visited 131 times, 1 visits today)

Comments

To Top