Kuliner

7 Fakta Seru Soal Asal Usul Tahu Sumedang yang Gurih

Nama tahu Sumedang tampaknya sudah nggak asing lagi di telinga kita. Rasa yang gurih dan lezat selalu terbayang di pikiran, terutama saat sedang traveling ke Bandung atau Sumedang.

Rasanya, nggak lengkap kalau belum mampir ke kedai tahu Sumedang yang biasa kamu temukan di sepanjang jalan Jatinagor. Mau isi 25 atau 100, tahu Sumedang bakal bikin kita lahap menyantap selagi panas.

Memasuki usia yang sudah seabad, tahu Sumedang memiliki sejarah panjang dalam berkecimpung di dunia kuliner khas Jawa Barat. Terasa penting, lantaran panganan yang satu ini juga menjadi ikon Kabupaten Sumedang.

Nah, untuk sedikit mengingat akan kelezatan tahu Sumedang, Pegipegi punya 7 fakta menarik soal asal usul tahu Sumedang. Mari disimak!

1. Negeri China

Tahu Sumedang pertama kali dikenalkan oleh imigran asal China, Ong Kino. Ia datang melalui Pelabuhan Cirebon di awal 1900-an untuk berdagang. Lantaran melihat potensi, ia pun mendirikan sebuah pabrik tahu di kota Sumedang. Tahu sendiri berasal dari bahasa Mandarin, Doufu dan sering dihidangkan kala ada pesta rakyat bersama warga asal China.

2. Turun ke Anak

Namun, menu tahu Sumedang justru baru hadir saat usaha pabrik tahu Ong Kino dipegang sang anak, Ong Bungkeng pada 1917. Yang bikin beda tahu Bungkeng dengan tahu biasa adalah menggunakan larutan biang yang berasal dari asam cuka. Dengan resep ini, tahu bakal terlihat lebih haring dan gurih saat disantap panas-panas.

3. Dilirik Pangeran

Kenikmatan tahu SUmedang ala Ong Bungkeng nyatanya sampai ke telinga Pangeran Soeriaatmadja atau Pangeran Mekkah, bupati Sumedang kala itu. Ia sengaja mampir ke kedai Ong Bungkeng saat dalam perjalanan menuju Situraya. “Ngeunah geuning ieu kadaharan teh, moal burung payu geura. (Lezat dan enak makanan ini pasti akan laku keras sekali),” kata sang Pangeran.

4. Berawal Tiga Pegawai

Pamor tahu Sumedang pun melesat cepat usai dilirik Pangeran Sumedang. Bermodalkan tiga pegawai, Ong Bungkeng pun makin serius menekuni usaha tahu ini. Namun, yang bikin virus tahu Sumedang meluas ke daerah-daerah seperti Bandung hingga Subang adalah tiga pegawainya. Mereka memutuskan keluar dan membangun sendiri usaha tahu Sumedang. Dan benar, kini tahu Sumedang sudah cukup menguasai pangsa pasar kuliner Jawa Barat.

5. Nggak Pernah Surut

Minat masyarakat Indonesia terhadap tahu Sumedang nyatanya nggak pernah surut. Ini yang dianggap sebagai alasan tahu Sumedang tetap laris meski usianya sudah 100 tahun. Terdapat 200 pabrik tahu di Sumedang yang masih sangat aktif memproduksi tahu terbaik. Hal yang sama juga terjadi pada kedai tahu Bungkeng yang sudah berada di tangan generasi ketiga, Suryadi Ukim.

6. Soal Kedelai dan Air

Foto: Makan Bahagia

Sayang, soal kualitas, banyak kedai tahu Sumedang masih bisa dibilang seadanya. Ini dipengaruhi oleh kualitas kedelai dan air untuk memproduksi tahu. Jika dulu, kedelai yang digunakan bisa bertahan enam bulan lamanya. Kini, kedelai hanya bisa bertahan empat bulan. Hal ini mempengaruhi rasa dan tekstur tahu Sumedang itu sendiri.

7. Siap Medunia

Meski terkesan sederhana, tahu Sumedang punya kans untuk menjadi fenomena di dunia. Hal ini disampaikan oleh Ketua MPR, Zulkifli Hasan yang siap mendorong tahu Sumedang untuk menjadi kuliner dunia. “Tahu Sumedang adalah contoh usaha rakyat yang tetap eksis. Harus ada dukungan penuh agar tahu Sumedang bukan hanya bertahan, tapi juga bisa mendunia,” kata Zulkifli dilansir Jawapos.

Penasaran sama tahu Sumedang? Kalau gitu, yuk berburu tahu sambil liburan. Jangan lupa pesan tiket pesawat, tiket kereta dan hotel murah di Pegipegi!

Agar transaksi kamu lebih murah dan mudah, jangan lupa instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store, ya!

google-play

apps-store

 

(Visited 61 times, 2 visits today)

Comments

To Top