Destinasi

5 alasan kenapa kamu wajib punya nyali baja Ke Tana Toraja

Buat kamu yang punya nyali gampang ciut, bisa jadi traveling ke Toraja seperti berada dalam film horror. Ini sebabnya kenapa jalan-jalan ke Toraja bakal menampung banyak cerita unik yang bisa bikin bulu kuduk merinding.  Berikut adalah beberapa hal yang membutuhkan nyali baja untuk menyaksikannya.

1. Mayat Berjalan dalam Ritual Ma’Nene

Kalau Hollywood bikin film zombie yang berkeliaran, di Tana Toraja hal ini adalah hal yang nyata.  Tenaang, nggak usah panik dan  langsung siap-siap buat zombie apocalypse.  Fenomena ini hanya merupakan ritual pemindahan kubur mayat  aja kok.  Eh, tapi tetep ngeri ya.. hahaha.  Ritual ini bernama Ma’Nene merupakan ritual habis panen yang diadakan setiap  tiga tahunan.

Dalam ritual ini jasad orang yang sudah meninggal dikeluarkan dari tempatnya kemudian dipakaikan baju baru oleh  keluarga atau anak cucunya, kemudian dengan melakukan ilmu gaib, mayat bisa berjalan untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya.  Penampakan mayat berjalan ini sempat bikin heboh dunia internet dunia

blog.8share.com

blog.8share.com

 

2.Tebas leher kerbau

Penyembelihan kerbau untuk pesta adat di Toraja ini cukup hardcore dan penuh darah.  Tapi sebenarnya pemotongan dengan cara ini adalah sangat manusiawi.  Karena dengan sekali tebas, binatang sudah mati, jadi nggak tersiksa lama.  Upacara pemotongan kerbau ini biasanya termasuk di ritual adat Rambu Solo yaitu ritual pemakaman. Cari tau lebih lengkap di sini.

mobileprints.com

mobileprints.com

 

3.Hidup Bersama Mayat

Kayak episode Walking Dead, nggak sih?  Di Tana Toraja bukan aneh lagi kalau ada jenazah ynag tinggal di rumah keluarganya selama bertahun-tahun dan diperlakukan sebagai layaknya orang hidup.  Takjub? Gini ceritanya, di Tana Toraja kematian dianggap suatu hal yang mulia, dan dirayakan besar-besaran.  Penduduk menabung bukan untuk biaya kehidupan, tapi untuk membiayai kematian.  Karena prosesinya megah, biayanya pun nggak sedikit – bisa sampai ratusan juta, malah.

Oleh karena itu, sebelum mampu melakukan prosesi pemakaman, biasanya jenazah diawetkan terlebih dahulu dengan menggunakan cuka atau formalin, kemudian disimpan di rumah keluarga, hingga biaya untuk pemakaman terkumpul.  Baru kemudian dipindahkan di pemakaman di tebing.  Dalam keyakinan masyarakat Toraja, jenazah yang belum bisa dimakamkan itu belum dianggap meninggal, hanya sakit saja.  Jadi tidak aneh di sana kalau memberi mayat rokok, makanan, atau minuman.

 

4.Kuburan Bayi di Pohon

Jangan kaget, kuburan bayi ini obyek wisata, lho. Karena budaya Toraja memang menganggap kematian sebagai suatu hal yang sangat sakral dan istimewa.  Masyarakat Toraja percaya bahwa apabila bayi yang umurnya di bawah enam bulan harus dikembalikan seperti layaknya ke rahim ibu.  Pohon Tarra yang kaya getah berperan sebagai pengganti air susu ibu menjadi tempat persemayaman bayi yang sempurna bagi kepercayaan masyarakat Toraja.

http://ensiklo.com/

http://ensiklo.com/

 

5.Boneka kematian

Kalau ke Toraja terus lihat seperti ada boneka kayu yang lucu bersandar di tebing, itu bukan boneka untuk mainan.   Boneka kayu itu disebut sebagai Tau Tau, yaitu patung yang menyerupai orang meninggal yang dimakamkan di tebing tersebut.  Bukan seperti cerita di film horror Annabelle itu, lho, ya.  Well…we never know.. Yang pasti, boneka Tau Tau ini sangat dianggap sakral dan dilarang untuk disentuh.

www.tagantar.com

www.tagantar.com

 

 

(Visited 1,136 times, 1 visits today)

Comments

To Top