Berita

4 Fakta tentang Ekowisata yang Perlu Kamu Tahu dan Pahami!

salah kaprah ekowisata

Ecotourism atau ekowisata memang sedang naik daun! Salah satu alasan utamanya, traveler masa kini suka mencari ketenangan di alam. Meski sedang begitu digemari, sayangnya belum semua traveler memahami benar tentang arti sebenarnya dari ekowisata. Hal ini diungkap oleh Hutan Itu Indonesia (HII), sebuah gerakan terbuka yang diinisiasi oleh individu dan organisasi yang ingin berkontribusi melestarikan hutan Indonesia lewat pesan positif dan perubahan gaya hidup, melalui rilisnya yang dikirim kepada Pegipegi.

Nah, apa saja salah kaprah tentang ekowisata yang perlu kamu tahu dan pahami? Simak ulasannya berikut ini, yuk! 

1. Wisata Alam Pasti Ekowisata. Padahal?

Banyak di antara kita mungkin berpikir, jalan-jalan ke taman, kebun raya, air terjun, hutan, apalagi taman nasional, sudah pasti berkonsep ekowisata. Ternyata, nggak selalu begitu. 

Diyah Deviyanti, Project Coordinator Hutan Itu Indonesia (HII) menjelaskan, memang betul bahwa ekowisata itu berwisata ke alam terbuka. “Tapi, ekowisata menyimpan pesan bahwa wisatawan juga ingin mendapat pengetahuan tentang alam, tentang budaya, juga tentang masyarakat lokalnya. Satu hal yang pasti, kegiatan kita sebagai wisatawan, maupun kegiatan yang dilakukan oleh pengelola tempat wisata, tidak merusak alam. Sekalipun hutan atau taman nasional, jika pengelolaannya mengganggu ekosistem, tempat itu tak bisa disebut destinasi ekowisata.”

Ada hal mendasar yang membedakan destinasi ekowisata dan tempat wisata secara umum, yaitu fasilitas pendukung. Di tempat wisata umum, meski menampilkan keindahan alam, biasanya terdapat bermacam fasilitas untuk mendukung kenyamanan pengunjung. Misalnya, toilet dan tempat makan. Namun di destinasi ekowisata, kamu nggak akan menemukan fasilitas pendukung. Karena, tujuan ekowisata adalah melindungi kealamian suatu lingkungan, sekaligus menyejahterakan masyarakat sekitar. 

2. Ekowisata Itu Murah. Faktanya!

Kita mungkin berpikir, karena traveling ke alam, artinya nggak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menginap di hotel dengan fasilitas bagus atau untuk makan di resto. Jadi, sudah pasti biayanya akan lebih murah daripada jalan-jalan ke kota. 

Faktanya anggapan ini nggak benar, ya. Ekowisata justru cenderung memakan banyak biaya. Diyah mencontohkan, kalau suatu tempat wisata dibuka secara besar-besaran, tiket masuknya akan lebih murah. Sedangkan pada destinasi ekowisata yang jumlah pengunjungnya dibatasi agar alam tidak rusak, biayanya tentunya akan lebih tinggi. 

Terus, kalau alamnya dibiarkan alami dan tempat itu nggak punya fasilitas yang perlu dirawat. Mengapa perlu banyak dana untuk pemeliharaan? Diyah menjelaskan, justru karena tempat itu merupakan tempat alami, banyak orang bisa asal saja mengambil sesuatu dari hutan. Misalnya, kayu. Supaya nggak terjadi, perlu ada penjaga hutan atau ranger. Ada pula yang bertugas untuk membersihkan jalur jalan, misalnya ketika ada pohon yang tumbang karena angin. Diyah menjamin, meski terbilang cukup mahal, pengalaman pergi ke area berkonsep ekowisata pasti akan sepadan dengan biayanya. 

3. Kegiatan di Lokasi Ekowisata Nggak Beda dari Tempat Wisata Umum.

Kalau sama-sama ke hutan, meski yang satu menerapkan konsep ekowisata dan satunya lagi nggak, artinya kegiatan yang bisa dilakukan akan sama saja. Nggak demikian. Namun, di lokasi wisata berkonsep ekowisata, kamu juga bisa melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan, kok. 

Diyah bercerita, ketika pergi ke Tangkahan, ia menemukan hutan yang masih sangat alami. Tidak dibuat apa-apa di dalamnya. Ada jalan setapak tanah yang kecil, tanpa dilapisi bebatuan. Di tengah hutan ia bertemu babi dan monyet. Di ujung hutan terdapat sebuah sungai. Bagi pengunjung, tersedia juga rumah-rumah ramah lingkungan yang dilengkapi toilet. Pengunjung bisa memilih akan menginap di bangunan yang sudah disediakan warga, atau homestay di rumah warga. 

4. Eco-friendly Traveling Sama dengan Ecotourism?

Karena sama-sama ada kata ‘eco’ dan mengandung unsur wisata, maka banyak yang menyangka bahwa eco-friendly traveling sama dengan ecotourism. Padahal sebenarnya nggak sama. Eco-friendly traveling lebih pada rasa kepedulian atau tanggung jawab sebagai traveler terhadap lingkungan.  

Namun, Diyah melihat ada benang merah di antara keduanya, yaitu sama-sama peduli terhadap alam. Hanya, caranya saja yang berbeda. Ia mencontohkan perilaku eco-friendly traveling. Ketika kita pergi dengan pesawat, artinya ada jejak karbon yang cukup besar. Maksudnya, ada karbondioksida dari pesawat yang dihasilkan dan berpotensi menyebabkan polusi. Kalau kita paham soal eco-friendly traveling, kita punya tanggung jawab untuk ‘mengganti’ pelepasan karbon tersebut. Salah satu caranya adalah mengadopsi pohon yang sudah cukup besar dan telah menghasilkan banyak oksigen. 

Diyah juga menegaskan bahwa perilaku traveling ramah lingkungan wajib diterapkan saat berada di lokasi ekowisata. “Jangan sampai lokasi yang sudah benar-benar dijaga malah dikotori oleh sampah. Jangan pula mengukir-ukir dan menulis sembarangan. Memang di destinasi ekowisata banyak sekali hal-hal yang sangat bagus. Saking bagusnya, tak sedikit yang tergoda untuk mengukir nama. Percuma datang ke destinasi ekowisata, kalau ujung-ujungnya merusak juga. Harusnya kedatangan kita membuat tempat itu tetap bagus dan lestari.”

Alexander Thian, storygrapher dan penulis yang dikenal dengan nama Amrazing juga menyayangkan perilaku nggak peduli lingkungan yang dilakukan oleh wisatawan di Gunung Rinjani. Ia pernah menemukan area menghitam akibat kebakaran dari sebuah puntung rokok yang dibuang sembarangan. Ratusan meter persegi lahan tanaman edelweiss hangus terbakar. “Aku juga menemukan pohon sangat besar yang dikerat-kerat dengan pisau. Janganlah merusak alam sebagus itu. Jangan juga mengambil apa pun dari alam, termasuk bunga edelweiss. Cukup difoto saja. Bukan cuma kita yang ingin menikmati alam. Kalau kita merusaknya, generasi berikutnya bisa menikmati apa?” ungkapnya dalam IG Live yang digagas Hutan Itu Indonesia pertengahan Oktober lalu.

Merasakan kedamaian di tengah hutan yang masih alami, menyusuri jalan setapak kecil, dan menikmati air terjun yang airnya jatuh secara alami serta sekitarnya masih natural, memang terdengar begitu menyenangkan ya, SobiPegi? Yups, itulah gambaran destinasi ekowisata yang sesungguhnya.

Nah, buat kamu yang butuh inspirasi seru seputar traveling ataupun liburan, kamu juga bisa cek rekomendasinya di Pegipegi, ya!

CEK TEMPAT WISATA MENARIK  CEK TEMPAT KULINER FAVORIT  CEK REKOMENDASI HOTEL KEREN  PESAN HOTEL PROMO

Agar transaksi kamu lebih murah dan mudah, jangan lupa instal aplikasi Pegipegi lewat Google Play atau App Store, ya!

google-play
apps-store

Sumber foto: Dok. HII

Comments

To Top
%d bloggers like this: