Tips

11 Mitos Orang Tionghoa yang Perlu Kamu Tahu

Mumpung masih suasana Tahun Baru Imlek dan sebentar lagi kita akan memasuki Cap Go Meh, nggak ada salahnya jika pegipegi bahas soal mitos orang Tionghoa yang sudah mendarah daging. Mungkin, beberapa di antaranya sudah pernah kamu dengar. Mau percaya atau nggak juga terserah kamu. Karena, semuanya kan cuma mitos dan belum bisa dipastikan benar atau nggak. Apa aja nih mitos-mitosnya?

1. Nggak boleh jadi pengapit pernikahan lebih dari tiga kali

Pengapit pernikahan adalah orang yang membantu segala kebutuhan pengantin ketika hari pernikahan. Biasanya, mereka bakal didandani dengan jas dan dress ala pengantin juga. Tugas seperti ini memang mulia banget karena mereka sudah menyediakan waktu selama seharian untuk membantu pengantin. Tapi, katanya tugas ini nggak boleh dilakukan lebih dari tiga kali. Konon katanya, seseorang yang sudah jadi pengapit lebih dari tiga kali bakal mengalami berat jodoh.

bridesmaid

http://www.thebridelink.com/

2. Kalau belum menikah nggak boleh pakai baju pengantin

Sama seperti mitos barusan. Katanya bakal berat jodoh kalau sebelum menikah sudah pakai baju pengantin. Pakai baju pengantin di sini maksudnya cuma dalam tujuan iseng, coba-coba, atau keperluan pemotretan. Percaya nggak percaya juga sih, soalnya banyak juga kan model yang dibayar untuk memakai baju pengantin. Entah mereka bakal berat jodoh atau nggak. Hihihi…

wedding dress

www.aliexpress.com

3. Jomblo wajib makan kue dari pengantin

Kalau di resepsi pernikahan orang Tionghoa, ada ritual yang namanya mingle. Ketika mingle, pasangan pengantin tersebut berkeliling di ruangan resepsi untuk menghampiri tamu undangan, terutama para jomblo atau pasangan yang belum menikah. Supaya mereka bisa membagikan sesuatu, seperti kue atau cokelat. Nah, kue atau cokelat tersebut harus dimakan oleh si jomblo supaya cepat dapat pacar atau oleh pasangan yang belum menikah supaya cepat menyusul.

Selain kue atau cokelat dari pengantin, kamu juga wajib makan rujak pengantin yang disediakan di meja prasmanan supaya enteng jodoh. Walaupun kamu nggak doyan sama makanan itu, setidaknya makanlah sedikit supaya kamu cepat dapat pacar. Hihihi…

mingle

http://www.stylemepretty.com/

4. Jarak umur pasangan harus diperhatikan

Orang-orang Tionghoa biasanya memerhatikan jarak umur pasangan yang katanya berpengaruh terhadap kelanggengan atau peruntungan percintaan pasangan itu sendiri. Ada beberapa jarak umur yang seharusnya dihindari, yaitu 3, 6, dan 9 tahun. Jadi, kalau misalnya jarak umur kamu sama pasangan 3, 6, atau 9 tahun, katanya hubungan percintaan kamu nggak akan lancar.

Bisa putus di tengah jalan dan kalau pun jadi menikah, kehidupan rumah tangga kamu nggak akan bahagia. Yang bagus itu adalah jarak umur 4 tahun. Karena, angka 4 itu seperti jumlah kaki meja yang menggambarkan dasar rumah tangga yang kokoh. Sedangkan, jarak umur yang lain sih nggak berpengaruh apa-apa.

5. Hindari angka 4, perbanyak angka 8

Jarak umur pasangan yang bedanya 4 tahun memang bagus, tapi angka 4 nggak bagus untuk kehidupan sehari-hari. Soalnya, pelafalan angka 4 di dalam bahasa Mandarin (si) mirip artinya sama kata ‘mati’. Kalau kamu lihat di mal-mal atau beberapa gedung, pemilik gedung biasanya nggak pakai angka 4 untuk menunjukkan letak lantai. Tapi mereka lebih suka pakai angka 3A untuk menggantikan angka 4.

Sedangkan, angka 8 dipercaya bisa membawa keberuntungan. Hal ini dinilai berdasarkan filosofi angka 8 yang nggak berujung. Ketika kita menulis angka 8 aja, angka tersebut ditulis secara mengalir. Diharapkan sih, angka 8 juga membawa keberuntungan yang nggak pernah ada ujungnya. Perhatikan deh, teman kamu yang orang Tionghoa. Kebanyakan dari mereka ketika memilih nomor ponsel, pasti mereka menghindari angka 4 dan kalau bisa perbanyak angka 8.

6. Makan onde harus sesuai umur

Biasanya, tradisi ini dilakukan ketika hari Ibu (22 Desember). Di hari itu, para ibu-ibu Tionghoa suka bikin onde-onde untuk keluarga mereka. Tapi, makan onde-ondenya nggak bisa sebanyak yang kita mau. Makan onde-ondenya harus sesuai dengan jumlah umur kita dan ditambah sebutir onde. Katanya sih biar kita hoki terus dan umur kita bertambah setahun. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini sudah nggak terlalu diikuti banget, sih. Kadang ibu kita juga mengizinkan kita buat makan onde-onde sebanyak yang kita mau, kok. Hihihi…

onde

www.kompasiana.com

7. Wajib makan mie pas ulang tahun

Biar panjang umur katanya! Soalnya, mie itu kan panjang ukurannya, jadi memang sudah seperti simbol panjang umur. Entah benar atau nggak, soalnya kan umur ada di tangan Tuhan. Meskipun begitu, bagi orang Tionghoa, ulang tahun bakal terasa kurang lengkap kalau nggak makan mie.

Bakmi-Ulang-Tahun

http://www.jpchineseseafood.com/

8. Pakai baju terbalik berarti sumpahin ortu cepat meninggal

Kadang kita suka nggak sengaja pakai baju terbalik. Tapi, habis itu jangan diteruskan, ya! Karena, buat para orangtua Tionghoa, hal itu dianggap kurang ajar. Mereka bakal menganggap kita menyumpahi mereka cepat meninggal. Wah, daripada diomeli lebih baik kamu buru-buru betulin baju, deh.

9. Nggak boleh pakai aksesoris warna putih di kepala

Pernah lihat kan adegan Nobita sedang belajar keras sambil pakai ikatan kepala putih sebagai penyemangat? Sepertinya seru buat diikuti, tapi bagi orang Tionghoa, hal itu dianggap sebagai tindakan menyumpahi orangtua agar cepat meninggal. Makanya, ikat putih di kepala hanya dipakai saat menghadiri pemakanan orangtua yang meninggal.

10. Nggak bagus kalau meninggal di hari Selasa atau Sabtu

Katanya sih, lebih bagus meninggal di hari Minggu saat orang-orang sedang libur dan nggak sibuk. Tapi, sebagai manusia kan kita nggak bisa menentukan kapan kita meninggal. Cuma, kata orang Tionghoa sih lebih baik nggak meninggal di hari Selasa atau Sabtu. Dengar-dengar, kalau ada yang meninggal di kedua hari itu, roh orang meninggal tersebut bakal mengajak anggota keluarga lain untuk ikutan meninggal dalam waktu cukup dekat. Ada beberapa orang sih yang pernah mengalami hal ini, entah cuma kebetulan atau memang sudah takdir.

11. Orang Tionghoa agamanya lebih cocok Buddha

Menurut orangtua zaman dulu, kalau emang punya darah Tionghoa, nggak perlu pindah agama. Tetep aja peluk agama Buddha (kebanyakan orang Tionghoa itu beragama Buddha atau Kong Hu Cu). Karena, kalau dilihat dari muka, orang Tionghoa lebih cocok sembahyang ke Dewi Kwan Im yang mukanya Tionghoa banget. Nggak cocok menyembah Tuhan Yesus yang mukanya bule banget! Dan kurang pantas menghormati Nabi Muhammad yang (mungkin) mukanya Arab banget.

Unik banget, ya, mitos-mitos orang Tionghoa di atas! pegipegi juga pernah bikin artikel soal mitos Tahun Baru Imlek, lho! Kamu bisa baca artikelnya di sini.

Dan jika kamu ingin traveling dalam waktu dekat, jangan lupa pesan tiket pesawat dan hotel murah lewat pegipegi.com. Harga dan diskonnya bukan cuma mitos, lho! Hihihi…

cari tiket pesawat murah cari hotel murah

(Visited 13,949 times, 7 visits today)

Comments

To Top