Destinasi

10 Curhatan yang Cuma Dimengerti Orang Tionghoa di Indonesia

http://thebridedept.com/

Tionghoa adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang memiliki budaya unik dan kaya. Tapi, faktanya kebudayaan Tionghoa makin lama makin memudar, sehingga orang Tionghoa di Indonesia merasa bahwa mereka bukan lagi orang Tionghoa sesungguhnya. Mereka lebih merasa seperti orang Indonesia asli (pribumi) pada umumnya. Itu baru satu curhatan orang Tionghoa di Indonesia. Dan masih banyak curhatan lain yang pegipegi pernah dengar dari lingkungan sekitar. Curhatan apa aja, nih?

1. Nggak paham soal perayaan-perayaan rutin budaya Tionghoa

Coba deh tanya teman kamu yang bersuku Tionghoa. Mereka pasti cuma tahu perayaan Tahun Baru Imlek atau mungkin perayaan hari Bacang yang terkadang perayaannya suka terlewat karena nggak tertera di kalender. Merayakan hari Bacang pun nggak sepenuh hati karena mereka cuma tahu enaknya bacang. Sedangkan, perayaan seperti Ceng Beng sudah mulai ditinggalkan. Paling hanya para orangtua aja yang masih rajin sembahyang untuk memperingati Ceng Beng.

Perayaan Kue Bulan juga heboh sih setiap tahunnya, tapi begitu ditanya orang lain tentang makna perayaan tersebut, mereka bingung mau jawab apa. Karena, mereka cuma tahu soal enaknya makan kue bulan. Hihihi… Hal ini dikarenakan warga Tionghoa sempat mengalami diskriminasi dan didoktrin agar meninggalkan segala macam bentuk tradisi dan budaya. Lama-lama, mereka lebih mengenal kebudayaan lokal, ketimbang budaya leluhur sendiri.

ceng beng

http://www.rmolsumsel.com/

2. Yang paling ditunggu pas Imlek adalah Angpao, bukan perayaannya

Bagi mereka yang belum menikah, perayaan Imlek menjadi perayaan yang paling dinanti-nantikan. Karena, mereka akan menerima angpao dari orangtua atau saudara yang sudah menikah. Mereka bakal makin senang jika ketika membuka angpao yang mereka temui adalah uang kertas berwarna biru dan merah.

Sedangkan, bagi yang belum menikah, perayaan Imlek bakal jadi ajang bagi-bagi angpao. Kadang, sebagian orang yang sudah menikah menilai hal itu adalah pemborosan. Malah, ada sebagian pasangan yang mencoba untuk menghindar saat Imlek tiba supaya nggak dimintain angpao. Hihihi… Sebagian lagi menganggap hal itu sebagai momen untuk memberi.

angpao

www.bobo.kidnesia.com

3. Sering dikira kaya raya, tapi pelit

Apalagi saat perayaan Imlek. Begitu kamu dengar begitu banyak uang angpao yang mereka dapat saat Imlek, kamu langsung mencap bahwa semua orang Tionghoa itu kaya raya. Apalagi, sebagian orang Tionghoa mencari nafkah dengan cara berdagang atau bisnis. Mereka yang jadi bos dan mengatur pegawai. Tapi, nggak semua orang Tionghoa kaya raya, lho. Masih banyak juga yang perekonomiannya pas-pasan dan kerja sama orang.

Orang Tionghoa juga dikenal akan kepelitannya. Banyak yang bilang ‘Pantesan duitnya banyak, dia kan pelit!’. Padahal, pelit atau nggaknya seseorang nggak tergantung dari suku yang dia punya. Kebanyakan orang Tionghoa sudah terbiasa berbisnis dan mengatur uang, jadi mereka juga bakal bersikap cermat terhadap pengeluarannya. Otomatis, mereka jadi bisa membedakan mana kebutuhan, mana keinginan. Kalau begitu sih, lebih tepat disebut iri, daripada pelit, ya. Hehehe…

4. Nggak mengerti bahasa Mandarin

Kebanyakan dari kamu pasti mengira semua orang Tionghoa bisa berbahasa Mandarin. Setiap kali kamu baca tulisan Mandarin dan nggak ngerti, pasti kamu pengin banget minta tolong ke teman Tionghoa kamu buat mengartikannya, kan? Nah, teman kamu itu pasti bakal bingung mau jawab apa. Soalnya, sudah seribu orang yang minta tolong ke dia. Tentu aja dia harus menjelaskan sekali lagi bahwa dia nggak bisa bahasa Mandarin.

Dan memang kenyataannya seperti itu. Sebagian besar orang Tionghoa nggak bisa bahasa Mandarin. Paling cuma orangtua zaman dulu yang mengerti Mandarin. Soalnya, di zaman dulu kurikulum Bahasa Mandarin di sekolah sempat dicabut. Yang jago Mandarin cuma mereka yang kerajinan ambil les di luar sekolah. Kurikulum Bahasa Mandarin baru ada kembali sejak zaman pemerintahan Presiden Gusdur.

5. Nggak punya nama Chinese

Coba tanya teman Tionghoa kamu soal nama Chinese mereka. Pasti kebanyakan jawab nggak tahu. Karena, di zaman dulu, orang-orang Tionghoa yang punya nama Chinese kebanyakan hidupnya dipersulit. Orangtua juga merasa penggunaan nama Chinese sudah nggak diperlukan lagi.

Kalau pun sudah punya nama Chinese, biasanya nama itu di-Indonesiakan. Misal, Salim, Wijaya, Liman, Sidharta, Cahyadi, Tjahjono, Gunawan, dan lain-lain. Beberapa orang Tionghoa masih punya nama Chinese, tapi begitu diminta untuk menulis nama Chinese-nya dengan kanji Mandarin, mereka langsung bingung mau nulis apa. Kalau pun pernah diajarin cara menulisnya, lama-lama juga bakal lupa lagi!

6. Bingung soal silsilah dan panggilan setiap anggota keluarga

Apalagi, orangtua zaman dulu yang punya anak banyak banget, sehingga menghasilkan banyak anggota keluarga lagi di bawahnya. Pas acara keluarga, terutama Imlek, mereka belum tentu kenal dengan semua anggota keluarganya. Jadi, kadang harus dikenali lagi, deh. Nggak heran jika kadang orang Tionghoa lebih akrab dengan teman ketimbang sama sepupu sendiri. Ketemunya aja cuma setahun sekali.

Sudah gitu, panggilan untuk orang yang lebih tua pun bermacam-macam. Beda dengan orang Indonesia asli yang panggilan ke keluarganya lebih simpel, misal Om dan Tante. Sedangkan untuk orang Tionghoa, panggilan untuk Om dan Tante yang berasal dari keluarga ayah berbeda dengan panggilan Om dan Tante yang berasal dari keluarga ibu. Mempelajari silsilah keluarga Tionghoa, sekaligus panggilannya masing-masing bakal lebih susah daripada belajar Sejarah di sekolah!

7. Makanan Indonesia lebih enak ketimbang Chinese food

Sesering-seringnya orang Tionghoa traveling ke luar negeri hingga menetap di luar negeri untuk sekolah atau bekerja, mereka pasti bakal kangen banget sama makanan Indonesia! Apalagi makanan Indonesia yang super pedas dan nggak bisa ditemui di luar negeri. Untuk mengobati rasa kangen, kebanyakan dari mereka sampai stock mie instan di luar negeri atau belajar masak makanan Indonesia.

Chinese food juga enak, sih, tapi kalau disuruh memilih, kebanyakan dari mereka lebih menganggap makanan Indonesia jauh lebih spesial. Soalnya, makanan Indonesia kaya akan bumbu dan rempah yang bikin rasanya jadi enak banget! Dan, siapa sih yang bisa menolak nasi Padang? Hehehe…

ayam

www.seraiwangi.com

8. Lebih memilih untuk menggunakan obat tradisional Chinese saat sakit atau luka ringan

Mungkin karena sudah jadi kebiasaan sejak zaman orangtua mereka masih muda. Dan kebanyakan, obat tradisional Chinese memang ampuh dan sudah dipercaya dari dulu untuk mengobati sakit tenggorokan, sakit perut, luka bakar, dan luka memar. Salah satu obat Chinese yang terkenal adalah Yunnan Baiyao yang ampuh untuk mengobat segala jenis luka bakar, memar, patah tulang, bengkak, dan lain-lain. Sedangkan, obat sakit perut yang terkenal adalah Po Chai yag terbuat dari bahan herbal, jadi lebih aman daripada obat-obatan kimiawi.

obat cina

obatcinamujarab.blogspot.com

9. Sering ditanya, kenapa pilih pasangan harus yang sesama Tionghoa?

Ehm, kalau yang ini sih semua orang Tionghoa bakal bingung harus jawab apa. Karena, mereka sendiri pun nggak ngerti kenapa bisa jatuh cinta dengan pasangannya yang juga Tionghoa. Selain itu, para orangtua Tionghoa juga sangat strict dalam hal pemilihan jodoh untuk anak mereka. Pastinya, mereka juga ingin anak-anak mereka bisa mendapatkan jodoh yang sesama Tionghoa juga agar lebih mudah menyesuaikan kebiasaan dan adat istiadat keluarga masing-masing. Lagipula, ada juga kok orang Tionghoa yang menikah dengan pribumi.

happy-chinese-couple

www.christianitymalaysia.com

10. Jika ingin menikah, harus konsultasi soal lamaran dan pernikahan dengan orangtua

Para orangtua Tionghoa nggak hanya strict soal pemilihan jodoh anak-anak mereka, tapi juga strict dalam hal menentukan tanggal lamaran dan pernikahan anak-anak mereka. Bukan cuma soal tanggal, tapi juga soal konsep acaranya. Meskipun pernikahan orang Tionghoa zaman sekarang sudah menggunakan konsep internasional dan nggak terlalu ribet, tapi tetap aja orangtua ingin mengambil andil di momen penting itu.

Apalagi, ada beberapa tradisi yang harus diikuti, misal acara Sangjit (lamaran) atau tradisi tea pai (morning ceremony). Jangan heran deh, jika pas resepsi pernikahan orang Tionghoa yang modern, kamu masih mendengar lagu-lagu Mandarin tahun 80 atau 90-an yang jadi favorit orangtua ketika mereka masih muda.

sangjit

www.alienco.net

sangjitSeperti itu deh, curhatan orang Tionghoa pada umumnya. Selain berbagai soal keunikan suku bangsa di Indonesia, pegipegi juga berbagai diskon tiket pesawat dan hotel. Jika kamu ada rencana berpergian dalam waktu dekat, jangan lupa pesan tiket pesawat dan hotel murah lewat pegipegi.com, ya! Karena, banyak diskonnya! Selamat traveling!

cari tiket pesawat murah cari hotel murah

Foto utama: http://thebridedept.com/

(Visited 68,358 times, 3 visits today)

Comments

To Top